Jurnal Akademi Keluarga (Parenting Nabawiyah): Keuangan Keluarga Muslim


30Cash Flow Keluarga MuslimKetika kita memutuskan untuk membentuk keluarga muslim, salah satu hal penting yang harus diperhatikan adalah masalah mengelola keuangan keluarga. Meskipun keuangan bukan satu-satunya faktorm sebuah keluarga muslim yang ditunjang oleh keuangan yang baik tentunya akan lebih mudah mewujudkan harapan.

Pada saat saya mengikuti pembahasan modul Keuangan Keluarga Muslim yang dipaparkan oleh ustadz Budi Ashari, Lc., saya mendapatkan pelajaran yang sangat bermanfaat. Keluarga muslim yang kokoh ditunjang oleh harta yang baik dan melahirkan kebaikan serta tegaknya kehidupan. Seringkali dalam kehidupan sehari-hari, di tengah-tengah melonjaknya kebutuhan hidup, saya menemui kesulitan untuk memilah mana potensi sumber pendapatan yang baik atau yang buruk.

Pilar pertama dalam keuangan keluarga muslim adalah PEMASUKAN. Sebagai seorang suami yang mempunyai kewajiban menafkahi keluarganya, saya selalu berusaha untuk mencari pemasukan sesuai dengan kemampuan. Alhamdulillah, saat ini jalan rizki saya terutama dari bidang pekerjaan saya sebagai peneliti di lembaga penelitian milik pemerintah. Berdasarkan penjelasan dari ustadz Budi Ashari, terdapat empat prinsip yang dipenuhi dalam pengelolaan pemasukan. Yang pertama prinsip “Harta Halal”. Keuangan keluarga muslim harus jelas asal usulnya dan terjamin kehalalannya. Dalam kenyataan di lapangan, terkadang saya dihadapkan pada pilihan untuk mengambil atau tidak mengambil suatu honor kegiatan yang kurang jelas dasar hukumnya dalam pengelolaan keuangan instansi pemerintah. Prinsip pertama pilar pemasukan ini insyaalloh selalu membimbing saya agar tidak terjerumus hingga mendapatkan pemasukan yang tidak halal (haram). Saya menyadari bahwa pendapatan yang saya bawa ke rumah, akan menjadi nafkah bagi istri dan anak-anak saya. Saya sangat takut apalagi sesuatu yang tidak halal masuk ke dalam rumah kami, terlebih lagi menjadi makanan dan minuman yang akan masuk ke dalam tubuh kami. Semoga Alloh SWT selalu melindungi kami.

Prinsip kedua adalah “Suami Menafkahi”. Hal ini sudah jelas bahwa sebagai suami berkewajiban memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya. Alhamdullillah jalan rizki yang diberikan Alloh SWT hingga kini mengantarkan saya untuk dapat memenuhi kewajiban saya. Adakalanya kami mengalami kekurangan dalam hal pendapatan, kekurangan makanan atau ditimpa kesakitan. Namun, atas perkenan Alloh SWT dan dilimpahkannya kesabaran dan kelapangan hati kepada istri saya, kami sekeluarga mampu mengatasi berbagai persoalan tersebut. Kesadaran bahwa kewajiban memberikan nafkah ada pada suami, mendorong keputusan kami untuk mencukupkan diri agar saya yang bekerja, sedangkan istri saya di rumah mengurus rumah tangga dan anak-anak. Alhamdulillah Alloh SWT dengan caranya sendiri mencukupi kebutuhan kami. Sebagai contoh, pada tahun ini kami memindahkan anak pertama kami ke sekolah Islam yang ternyata membutuhkan biaya yang besar. Tak terbayang sebelumnya saya mampu mendapatnya sejumlah uang untuk memenuhi kewajiban tersebut. Dengan jumlah pendapatan per bulan yang pas-pasan, ternyata Alloh SWT membukakan jalan bagi kami, dan alhamdulillah terbayarkan. Seringkali pada malam hari, saya bercakap-cakap dengan istri, rasanya jika menghitung secara matematis, antara jumlah pendapatan dengan kebutuhan saat itu, harusnya sudah minus. Rupanya Alloh SWT sangat menyayangi kami berdua dan anak-anak kami. Wallohu a’lamu, tiba-tiba saja terkumpul sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Alhamdulillah.

Prinsip ketiga sesungguhnya bersambung dengan prinsip kedua. Yaitu ketika kesadaran bahwa kewajiban memberikan nafkah ada pada suami dan kemudian memutuskan bahwa istri mengurus rumah tangga dan anak-anak, maka prinsip ketiga yaitu “Istri mendidik Generasi” merupakan konsekuensi logisnya. Alhamdulillah, dengan selalu hadirnya istri saya bersama anak-anak, kami lebih mudah memantau dan mengarahkan mereka agar menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Istri saya selalu mendampingi anak-anak dari sisi pendidikannya. Bagaimana menyelesaikan tugas sekolah, mengajarkan baca tulis Al Quran, sholat dan menghafal. Pola komunikasi antara orang tua dengan sekolah juga bisa berjalan dengan baik. Melalui buku penghubung, kami dapat memantau perkembangan anak-anak dan mendiskusikan cara penangangan yang baik. Sebagai contoh bagaimana kami menanamkan kepada anak-anak kami tentang kewajiban menutup aurat. Untuk anak laki-laki kami (ananda Nabil), alhamdulillah dari sekolahnya sudah wajib mengenakan celana panjang yang menutup aurat, sehingga Nabil telah terbiasa mengenakan pakaian itu meskipun sedang di rumah atau bermain dengan teman-temannya di lingkungan rumah. Selalu mengingatkan dan memberikan contoh bahwa mengenakan pakain harus menutup aurat dan sopan, terlebih ketika ibadah shalat. Sedangkan untuk anak perempuan kami (ananda Naila), alhamdulillah sama, di sekolahnya juga telah menerapkan busana muslimah untuk siswa perempuan. Pada saat di rumah, kami selalu menanamkan pemahaman mengenai aurat anak perempun yaitu menutup seluruh badannya. Tentunya hal ini sangat didorong oleh contoh teladan dari istri saya sebagai ibunya. Alhamdulillah Naila saat ini sudah tumbuh rasa malu bila keluar rumah tanpa mengenakan kerudung mungilnya. Agar Naila termotivasi yang senang mengenakan pakaian muslimah, kami memberikannya aneka warna kesukaan anak kecil. Semoga saya dan istri saya dapat selalu istiqomah mendidik anak-anak.

Adapun prinsip keempat dari pilar pemasukan ini adalah “Qonaah” atau selalu merasa cukup. Subhanalloh prinsip ini sungguh mulia dan agung, contoh dari baginda Rasulullah SAW. Alloh SWT telah mengaruniakan kepada kami kenikmatan yang sungguh besar, kami lahir sebagai dalam naungan Islam, dari keluarga muslim-muslimah yang bersahaja. Saya dan istri saya dipertemukan oleh Alloh SWT melalui aktivitas kami di tarbiyyah Islam, kemudian melahirkan generasi muslim-muslimah yang bermanfaat bagi sekitarnya. Kesadaran bahwa Islam adalah nikmat yang besar, sudah cukup menjadi alasan agar kami selalu qonaah. Alhamdulillah, saat ini kami tinggal di suatu kompleks perumahan yang secara sosial ekonomi cukup setara, tidak terlihat kesenjangan yang terlalu lebar. Kompleks perumahan yang baru tumbuh, dengan warganya yang relatif homogen secara usia, jumlah anak, sosial ekonomi dan mayoritas juga muslim, telah mengantarkan kami untuk dapat membina hubungan bertetangga yang baik dan tidak saling menyombongkan diri. Hal ini pula yang mendorong kami agar selalu dapat merasa cukup atas apa yang telah Alloh SWT berikan kepada kami.

Semoga saya dan istri saya mampu menegakkan pilar PEMASUKAN dalam keuangan keluarga muslim dengan keempat prinsipnya. Semoga Alloh SWT meridhoi kami. Amin ya robbal alamin…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: