Mewujudkan harapan


Pangeran Moogang, putera ke-4 raja Weduk dari Kerajaan Baekjae (salah satu dari tiga kerajaan besar di Semenanjung Korea), pernah mengatakan bahwa tugas para raja (pemimpin) adalah mewujudkan harapan rakyatnya (yang dipimpinnya). Adalah kewajiban para pemimpin untuk mengetahui apa yang menjadi harapan masyarakat yang dipimpinnya.

Dalam salah satu eposide pengasingannya bersama para budak dan tawanan perang, Pangerang Moogang menemukan apa yang menjadi harapan rakyatnya, yang kemudian menjadikannya kuat dan didukung oleh sebagian besar rakyatnya. Menemukan harapan rakyat adalah kunci untuk menghadirkan kepemimpinan yang melayani dan menyejahterakan. Harapan itu adalah harapan untuk “memiliki”, ya untuk “memiliki”. Untuk memiliki tanah pertanian yang bisa digarap sendiri, untuk memiliki pekerjaan dan taraf hidup yang layak, untuk memiliki rasa aman, untuk memiliki ketenangan dan kebahagiaan. Untuk mewujudkan harapan itu maka diperlukan keberpihakan. Hendaknya setiap pemimpin melihat kembali, mengkaji kembali, apakah setiap kebijakan/keputusannya telah menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat yang dipimpinnya?

Adalah menjadi penting bagi setiap pemimpin untuk mengetahui harapan kolektif dari masyarakatnya. Harapan kolektif bisa ditinjau dengan mengacu kepada Teori Kebutuhan Abraham Maslow, maka memahami pada level mana sebagian besar masyarakatnya akan sangat menentukan kebijakan keberpihakan yang akan diambil. Menurut Abraham Maslow, manusia memiliki lima tingkat kebutuhan hidup yang akan selalu berusaha untuk dipenuhi sepanjang masa hidupnya. Lima tingkatan yang dapat membedakan setiap manusia dari sisi kesejahteraan hidupnya, teori yang telah resmi di akui dalam dunia psikologi, yaitu:

  1. Kebutuhan Fisiologis, seperti: Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.
  2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan, seperti: Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan semacamnya.
  3. Kebutuhan Sosial, misalnya: Memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
  4. Kebutuhan Penghargaan, misalnya: Pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.
  5. Kebutuhan Aktualisasi Diri

Sehingga sangatlah tidak tepat jika sebagian besar masyarakat masih pada level kebutuhan fisiologis, tetapi kebijakan yang diterapkan adalah kebutuhan aktualisasi diri. Semua harus sesuai dengan porsinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: