Politik Organisasi


“Belakangan ini kok kamu nggak banyak terlibat di kegiatan-kegiatan organisasi kita?”

“Kamu sibuk apa sih, kok tiap kali aku usulkan ikut kegiatan kantor selalu nggak bisa?”

“Kamu ada masalah apa dengan Bapak A, kelihatannya beliau nggak mau kamu terlibat di kegiatan?”

Pertanyaan di atas kadang-kadang muncul dari rasa penasaran kolega kita, karena mengamati keterlibatan kita dalam berbagai macam kegiatan organisasi seolah terhenti atau berkurang. Apalagi jika kolega kita mengetahui bahwa selama ini kita adalah orang yang selalu aktif berkontribusi dalam kegiatan-kegiatan tersebut.

Terkadang kita tidak mengetahui persis permasalahan yang ada karena orang-orang yang bersinggungan dengan kita tidak secara eksplisit menyatakan ketidaksukaannya. Kalau yang terlihat menjauhi kita itu adalah kolega yang se-level, mungkin penanganannya lebih mudah. Dalam arti kita bisa secara langsung mengajak yang bersangkutan untuk berbicara dan mengkonfirmasi apa sebetulnya yang terjadi. Hal berbeda jika yang kita hadapi adalah pimpinan atau orang yang secara hirarki organisasi adalah atasan kita. Kita mau langsung menghadap, susah juga, mau didiamkan, susah juga.

Melihat situasi seperti ini, saya teringat ketika mengambil kuliah Business Leadership, khususnya pada materi Politik Organisasi. Bahwa untuk sukses dalam berorganisasi tidak semata-mata bertumpu pada kinerja dan loyalitas. Akan tetapi banyak faktor lain yang harus kita pahami, misalnya pola hubungan kita dengan atasan, adanya orang lain di luar lingkaran organisasi kita yang ternyata bisa mempengaruhi karir seseorang, dll.

Wujud dari politik organisasi ini ada yang terlihat nyata dan diformalkan (above the line) atau yang tidak diakui, tetapi terjadi secara diam-diam (below the line). Berbagai literatur dan riset sudah banyak yang membahas politik organisasi ini. Bahkan kemampuan untuk mengenai politik organisasi adalah salah satu kompetensi generik yang diungkapkan oleh Spencer dan Spencer dalam buku mereka “Competence at Work”.

Spencer dan Spencer menyebut kompetensi ini dengan label organization awareness. Ringkasnya adalah, ini suatu kemampuan untuk mengidentifikasi peta kekuatan di dalam organisasi, siapa yang dominan dalam pembuatan keputusan, serta aspek-aspek yang hidden di dalam organisasi.

Saya sendiri termasuk orang yang alergi terhadap politik, terlebih politik organisasi. Buat apa? Organisasi adalah tempat kita berkarya, jalan untuk menempa diri, berinteraksi dengan berbagai macam kepala, salah satu jalan rizki juga. Dalam pandangan saya, politik organisasi hanya akan menciptakan kegaduhan dan pola hubungan yang tidak sehat dalam organisasi.

Ketika suatu saat, pertanyaan-pertanyaan di awal tulisan saya ini menimpa saya, seorang teman menyarankan, “Saatnya kamu terlibat dalam POLITIK ORGANISASI!”

Wah….!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: