IPO Garuda Mengulang Kisruh Krakatau?


INILAH.COM, Jakarta – Tarik menarik harga penawaran saham umum perdana PT Garuda Indonesia terjadi. Kendati sudah diputuskan di kisaran Rp750-1.100, konflik tampaknya akan tetap membayangi emiten pelat merah ini.

Latif Adam, Koordinator Tim Kajian Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, selama mekanisme penawaran umum saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) PT Garuda Indonesia sama dengan mekanisme IPO PT Krakatau Steel (KRAS) alias KS, konflik penetapan harga akan terjadi.

“Sebab, pihak underwriter dan Menteri BUMN, masing-masing memiliki perhitungan sendiri,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (12/1).

Menteri BUMN Mustafa Abubakar sempat menetapkan harga IPO Garuda pada harga terbaik hingga Rp1.000. Tapi, dengan mempertimbangkan PE (rasio harga saham terhadap laba) perusahaan sejenis, underwriter mematok harga IPO pada level Rp600 hingga Rp850 per saham.

“Underwriter cenderung menekan harga, karena jika saham tersebut tidak laku akibat harga yang terlalu tinggi, underwriter sebagai penjamin harus membeli saham tersebut,”katanya

Untuk mengantisipasi kekhawatiran penjamin, bahwa harga Rp1.000 per saham terlalu mahal, Latief pun menyarankan Menteri BUMN memperkuat posisi tawar dengan memiliki second opinion dari analis independen yang kuat. Hal ini agar penetapan harga memiliki dasar yang kuat. “Tidak asal bunyi!” katanya.

Selama ini, lanjut Latif, menteri BUMN tidak punya second opinion mengenai harga wajar IPO BUMN, Price Earning Ratio (PER) dan indikator fundamental yang lain. Terlihat pada kekalahan pemerintah saat berdebat dengan underwriter. “Artinya, daya tawar Menteri BUMN dalam penetapan harga sangat lemah,” timpalnya.

Ini berarti, keinginan menteri BUMN menetapkan harga IPO di level Rp1.000 harus didukung analisis valid. Level tersebut tidak semata-mata keluar dari persepsi pasar sebagai pembeli tapi juga hitung-hitungan PER dan indikator fundamental lainnya.

“Second opinion berasal dari konsultan yang memiliki kemampuan analisis yang tidak kalah hebatnya dengan sekuritas-sekuritas milik pemerintah,” tandasnya.

Latif mengajak bercermin pada IPO KRAS, dimana underwriter menyatakan, jika harga ditetapkan di level Rp1.000, peminatnya akan sepi, sehingga harga ditetapkan di Rp850.

Namun, saat diperdagangkan hari pertama di pasar sekunder, harganya langsung melesat 47,05 persen ke level Rp1.250. “Ini pengalaman yang sangat berharga yang seharusnya tidak terjadi pada IPO Garuda,” timpalnya.

Adapun underwriter mematok KRAS di harga murah dengan alasan asing akan menjadi pemegang saham dalam jangka panjang. Kenyataannya, setelah pasar sekunder dibuka, justru asing yang terbanyak melakukan aksi jual. “Artinya, alasan underwriter tidak terbukti. Asing juga justru jadi spekulan,” keluhnya.

Senada dengan pengamat pasar modal Yanuar Rizky yang menilai selama karakteristik IPO sama, hasilnya pun akan sama. Sebab, konflik harga saham KRAS pada akhirnya tidak mengubah harga IPO.

Menurutnya, tidak adanya proses transparansi disebabkan tertutupnya Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam), sehingga kisruh saham baja ini diabaikan begitu saja. “Kasus KRAS didiamkan sehingga menjadi tradisi yang tidak benar. Ini juga akan terulang pada IPO Garuda Indonesia,” tukasnya.

Yanuar menyayangkan mekanisme IPO semacam itu. Padahal, saham yang dilepas ke publik adalah milik negera. Artinya, IPO itu harus memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk rakyat banyak. “Selama tidak membenahi IPO KRAS, IPO Garuda juga akan mengulang hal yang sama,” timpalnya.

Saat ini, Yanuar tidak melihat kampanye agar harga Garuda optimal pada saat bookbuilding. Ia pun khawatir Garuda dijual murah saat IPO dan harganya naik tajam di pasar sekunder.

“Kalau Garuda bukan BUMN saya tidak terlalu peduli. Tapi ini BUMN, yang alat kesejahteraannya harus sampai ke semua orang. Bukan segelintir orang-orang tertentu dan asing,” tegasnya.

Dia memaparkan, harga indikatif mencerminkan harga fundamental. Yang penting, proses book building harus wajar dan efisien. Sebagai penjual, pemerintah harus berjuang agar harga optimal indikatif dan harga book building bisa dipertanggujawabkan pemerintah dan manajemen Garuda.

Karena itu, di tengah kenaikan tajam IHSG, IPO Garuda bisa mendapatkan harga tinggi. “Sepanjang ada demand, harga tinggi mengapa tidak diambil.” Yanuar mencontohkan, harga fundamental memang Rp600, tapi faktor demand bisa menggiring harga ke level Rp1.600. “Mengapa tidak dijual di Rp1.600. Seharusnya harga tertinggi itu ditetapkan sebagai harga IPO,” tandasnya.

Deputi Restrukrisasi dan Strategis BUMN Pandu Djayanto telah mengumumkan harga IPO Garuda Indonesia di kisaran Rp750-Rp1.100. Hal ini dikutip dari keterangan yang diterbitkan Rabu (12/1) kemarin.

Perusahaan penerbangan ini akan melepas 36,48 persen atau 9.362.429.500 saham ke publik. Adapun saham tersebut terdiri dari 7.426.691.500 saham baru yang dikeluarkan portepel perusahaan dengan nilai nominal Rp500 setiap saham atau 28,93 persen dan 1.935.738.000 saham seri B milik Bank Mandiri atau sekitar 7,54 persen.

Jadwal sementara penawaran yaitu masa bookbuilding dan roadshow pada 13-24 Januari 2011, final harga pada 25 Januari 2011, pernyataan efektif pada 31 Januari 2011, periode penawaran 2,4,7 Februari 2011, penjatahan pada 9 Februari 2011, distribusi dan pengembalian dana 10 Februari 2011, dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 11 Februari 2011. [ast]

Sumber: Inilah.com (13/1/2011)

Sumber: http://www.lipi.go.id/www.cgi?berita&1294895631&1&2011&

3 Responses to IPO Garuda Mengulang Kisruh Krakatau?

  1. saya says:

    Dengan total saham beredar 25.664.554.550 lembar dan Total Equity per 31 Desember 2009 sebesar Rp 3.214.071jt, book-valuenya hanya sebesar Rp 125.23/lembar. Setelah rapat sampai malam, dipatok harga Rp 800,_/lembar saham. Lebih dari 6 x lipat ! Bhuahahaaa…mahal amat ! pantas ditegor Bapepam. Emang Investor pada bego apa ? Garuda kan Laporan Keuangannya penuh rekayasa. Rugi operasinya ytd nov 2010, lebih dari dua ratus milyar rupiah. Kenapa maksa harus IPO sekarang sih ? Pasti ada apa-apanya ?

  2. IPO Garuda Mengulang Kisruh Krakatau? « Budi Nugroho - Iklan Baris Gratis Tanpa Pendaftaran says:

    […] Baca Detail Iklan: IPO Garuda Mengulang Kisruh Krakatau? « Budi Nugroho […]

  3. saya says:

    Beberapa kejanggalan IPO Garuda:
    1. Public expose tanpa menyertakan prospektus
    2. Pengumuman harga sempat ditunda sehari
    3. Book building under subscribed (biasanya hampir tdk pernah terjadi)
    4. Melakukan ‘down sizing/cuts offer size’ saat peng…umuman harga.
    5. Harga yg ditetapkan adalah terendah dari range yg diumumkan
    6. Apa lagi setelah ini?????
    Mungkin awalnya pun sudah janggal melakukan IPO sementara Laporan keuangan Garuda hanya penuh ‘pupur polesan’ dan pencitraan Manajemen.
    Semoga kita semua jadi melek dan sadar bagaimana bobrok dan korupnya manajemen pengelolaan Garuda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: