Masyarakat Jenuh


Batam Pos, Jumat 7 Januari 2011

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), DR Syarif Hidayat menilai, rendahnya partisipasi masyarakat Batam untuk mengikuti pilwako bisa dilihat dari dimensi politik prosedural. Karesteristik masyarakat di Indonesia masih bersifat parochial. Mereka belum memiliki kesadaran berpolitik, sekalipun ada menyerahkannya kepada pemimpin lokal seperti suku.

”Ketika ada tokoh atau orang terdekat mereka menyuruh untuk tidak memilih, mereka pun cenderung mengikutinya. Dan ini bisa saja terjadi saat (Alm) Gus Dur menyatakan golput, masyarakat berbondong-bondong ikut tidak memilih,” kata Syarif, tadi malam.

Rendahnya kesadaran berpolitik karena masyarakat beranggapan apapun yang mereka pilih tidak akan mengubah nasibnya. Selain itu tingkat pendidikan dan intelektual cenderung menjadikan masyarakat bersifat parokial tersebut.

Sikap politik ini juga menjadi masyarakat untuk jenuh dalam mengikuti pesta demokrasi. Apalagi dengan banyaknya pemilihan di Indonesia, mulai dari pemilihan legislatif, pemilihan presiden, gubernur, hingga wali kota/bupati.

”Masyarakat jenuh! Bagi mereka para calon yang bertarung juga tidak akan membawa aspirasinya. Pemilihan dianggap sebuah seremonial belaka,” ucapnya.

Kalaupun mereka terlibat serta dalam pemilihan, tak lebih karena faktor kepentingan jangka pendek. ”Bisa jadi mereka ikut memilih karena faktor kedekatan, ikut-ikut saja, atau karena ada faktor take and give,” ungkap peneliti senior LIPI tersebut.

Padahal kata Syarif, masyarakat modern di negara maju seperti Amerika Serikat juga tingkat partispasi pemilihnya rendah dan cenderung tak lebih 50 persen. Bedanya dengan budaya politik parokial, di negara maju budaya politiknya sudah partisipan. Artinya mereka memilih karena sudah memiliki kesadaran berpolitik yang tinggi.

”Di negara maju, seseorang akan memilih bila sang calon sesuai dengan aspirasinya. Tapi mereka juga tidak akan memilih bila tidak sesuai aspirasinya,” jelasnya. Mereka cenderung kritis terhadap calon-calon yang ada. ”Bila memenuhi kriteria pilihan, baru gunakan hak pilihnya,” tukasnya.

Memang di Indonesia atau di Batam, ada beberapa kelompok masyarakat berpendidikan dan intelektual yang tidak memilih. ”Tapi jumlahnya tidak mayoritas. Mereka juga tidak memilih karena memiliki kesadaran politik,” kata peneliti senior LIPI tersebut. (amx)

Sumber: http://www.lipi.go.id/www.cgi?berita&1294478598&1&2011&

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: