Pembatasan BBM Subsidi Gerus Daya Beli Masyarakat


JAKARTA–MICOM: Program pembatasan bahan bakar minyak (BBM) subsidi pada 2011 dikhawatirkan menggerus daya beli masyarakat. Setidaknya, program ini dapat berkontribusi 0,34 persen terhadap inflasi.

Apabila dikombinasikan dengan kontribusi melambungnya harga pangan sebesar 7,28 persen, dipastikan inflasi dapat mencapai 7 persen atau lebih 1,3 persen dari asumsi makro APBN 2011 di mana inflasi dipatok 5,3 persen.

Demikian disampaikan ekonom Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam saat dihubungi di Jakarta, Selasa (4/1).

“Untuk Desember 2010 saja, dimana inflasi mencapai 0,92 persen, kenaikan harga pangan berkontribusi 0,67 persen terhadap inflasi. Artinya, persentase harga pangan sebesar 72,8 persen dari inflasi,” tutur Latif via sambungan telepon.

Latif yang memperkirakan harga BBM nonsubsidi jenis pertamax dapat mencapai Rp9000 per liter seiring membumbungnya harga minyak mentah dunia (US$92 per barel, diperkirakan mencapai US$100 per barel) membuat selisih pertamax dan premium mencapai Rp4.500 per liter.

“Artinya, ada lonjakan harga sebesar 100 persen. Ini bisa berdampak 0,34 persen bagi inflasi,” ujar Latif.

Apabila dikombinasikan antara harga pangan dan pembatasan BBM bersubsidi terhadap inflasi, menurut Latif, inflasi bisa mencapai 7 persen atau lebih. Meskipun IMF memperkirakan Indonesia dan Vietnam akan mengalami pertumbuhan ekonomi di 2011, iklim perekonomian yang mudah panas justru membuat tingkat inflasi akan lebih tinggi dari 2010 sebesar 6,96 persen.

“Dengan adanya selisih 1,7 persen antara asumsi makro dan realisasi inflasi, iini akan semakin menggerus daya beli masyarakat. Ini juga akan disinsentif bagi bisnis karena pertahanan Bank Indonesia akan jebol juga. Mau tidak mau BI akan menaikkan BI rate dari 6,5 persen ke 6,75 persen atau bahkan 7 persen. Kalau BI rate naik, perbankan juga akan menaikkan bungka kredit. Apabila kenaikannya tinggi, pertumbuhan akan mandeg.”

Sementara itu, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan pembatasan BBM dapat memukul daya beli masyarakat. Permasalahannya, masyarakat seolah dipaksa membeli pertamax yang jauh lebih mahal.

“Kenaikan harga itu bahaya kalau sampai melebih asumsi inflasi. Apa pun teorinya, kenaikan harga BBM dapat memukul daya beli masyarakat. Saya melihat Pemerintah harus memproteksi laju inflasi ini, caranya adalah berupaya menaikkan income masyarakat misalnya kenaikan UMR per daerah,” terangnya. (OL-3)

Media Indonesia Online
Selasa, 4 Januari 2011

Sumber: http://www.lipi.go.id/www.cgi?berita&1294194448&1&2011&

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: