Subsidi BBM bisa Bengkak Hingga Rp6,05 Triliun


JAKARTA–MICOM: Harga minyak mentah dunia kini naik dan berada di level U$91 per barel. Angka ini jauh di atas asumsi harga minyak di APBN 2011 yang hanya US$80 per barel.

Dengan kenaikan harga minyak dunia ini, Direktur ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto memperingatkan total pembengkakan subsidi energi bisa mencapai Rp34,1 triliun.

Kendati demikian, penerimaan negara dari sektor migas yang juga akan bertambah sekitar Rp28,05 triliun membuat total tambahan defisit APBN menjadi Rp6,05 triliun.

“Jumlah itu didapat sesuai asumsi harga minyak dunia dan Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) di APBN 2011 yakni US$80 per barel dan asumsi kurs rupiah Rp9.250,” imbuh Pri Agung via layanan pesan singkat kepada Media Indonesia, Minggu (2/1).

Adapun Ekonom Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam menilai BBM memiliki pengaruh sebesar 2,89 persen terhadap inflasi. Dengan harga pertamax pada level Rp6.900 dan BBM bersubsidi jenis premium Rp4.500 saja, bisa menyumbang inflasi hingga 0,9 persen untuk tahun 2011.

“Pemerintah harus mematok adanya lingkup yang layak bagi harga Pertamax. Katakanlah Rp6.000 sampai Rp8.000 per liter. Kalau melebihi Rp8.000 per liter, mau tidak mau Pemerintah harus mengalokasikan subsidi. Kalau tidak, ini akan bersifat kontraproduktif terhadap perekonomian,” ujar Latif kepada Media Indonesia.

Seperti dilansir portal berita Channelnews Asia harga minyak pada 2010 ditutup pada level tertinggi selama 26 bulan terakhir. Pada Jumat (31/12) minyak mentah jenis light sweet New York untuk pengiriman Februari ditutup pada US$91,38 per barel atau naik US$1,54 dari sehari sebelumnya. Sementara di London, minyak mentah jenis Brent North Sea untuk pengiriman Februari naik US$1,66 per barel menjadi US$94,75 per barel.

Khusus untuk minyak mentah jenis light sweet, kenaikan mencapai 15 persen sepanjang tahun 2010 dengan rata-rata harga US$92,06 per barel, atau yang tertinggi sejak Oktober 2008.

Sementara untuk Brent, persentase kenaikan mencapai 22 persen menjadi US$95,2 per barel, juga yang tertinggi sejak Oktober 2008. Meskipun diperkirakan menembus US$100 per barel, para ahli menilai kenaikan tersebut tidak akan mencapai US$150 per barel seperti tahun 2008. (OL-9)

Sumber: Media Indonesia (3/1/2011)

Sumber: http://www.lipi.go.id/www.cgi?berita&1294067576&1&2011&

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: