Membangun Bangsa Berbasis Pengetahuan


Dengan tumbuh budaya inovatif dan inventif, kita berharap dan bercita-cita akan menjadi bangsa yang makmur, bermartabat, sertadiperhitungkan bangsa-bangsa lain.”PEMBANGUNAN ber tujuan meningkatkan kemajuan bangsa mela luipeningkatan kualitas hidup masyarakat. Penelitian dilakukan untukmendapat kebenaran tentang sesuatu yang belum diketahui dan dapatdipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah. Kedua konseptersebut dapat saling berhubungan. Pembangunan berjalan sesuai denganapa yang dicita-citakan jika ditunjang dengan penelitian yang bermutu.Hanya saja, komitmen bangsa dan dunia industri terhadap hasilpenelitian (peneliti) masih sangat rendah.Dukungan industri Untuk mencapai hasil maksimal di bidang riset,penataan lembaga riset juga perlu dilakukan dengan melibatkan sektorswasta. Industri dapat berperan dalam mendorong peningkatan risetaplikatif. Hal tersebut berpengaruh dalam pembangunan ekonomi agartidak hanya berfokus pada sumber daya alam mentah, tapi juga diarahkanke pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan melalui sentuhanperekayasaan/teknologi.Bahkan bila perlu, pemerintah memberikan tindakan tegas kepada pihakindustri yang hanya mengekspor produk mentah, sebagai bukti langkahmendorong proses pertambahan nilai dan motor penggerak dalam demandteknologi, khususnya teknologi karya anak bangsa.

Kalau kita simak berbagai indikator kemampuan inovasi suatu negara,daya serap teknologi di level industri di Indonesia (dengan indeks4,5) lebih rendah daripada beberapa negara tetangga seperti Thailand(5,3), Malaysia (5,8), dan Singapura (6). Begitu juga kolaborasilitbang dan industri pada 2006 di Indonesia (dengan indeks 2,8) lebihrendah jika dibandingkan dengan China (3,9), Thailand (4,2), danMalaysia (4,9) (sumber: World Bank).Memang banyak kendala dihadapi untuk membangun kolaborasi antaralembaga riset dan industri.

Salah satunya perbedaan kepentingan/sudut pandang antara pelaku risetdan pelaku usaha. Produk riset lahir dari lingkungan/budaya yang lebihfleksibel dan masih memungkinkan adanya toleransi. Sementara sektorproduksi lebih mengedepankan pentingnya nilai tambah. Selain itu,kecilnya daya serap industri yaitu lamanya waktu riset sehingga layakditerapkan, antara 5 dan 20 tahun. Lamanya waktu dan besarnya biayariset membuat industri memilih membeli lisensi produk asing. Risetsampai saat ini masih dianggap sebagai temuan ilmiah. Padahal bangsakita memiliki potensi sumber daya alam melimpah, berpotensi untuktumbuh dan mengembangkan inovasi. Dengan jumlah populasi yang lebihdari 220 juta, negara ini merupakan pasar yang besar bagi produk-produk inovasi.

Dalam kegiatan peningkatan kemampuan inovasi, kemitraan dunia industri-lembaga riset berdasarkan PP 35/2007 yaitu (1) lisensi (paten),berdasarkan perjanjian dalam jangka waktu/ syarat tertentu; (2) kerjasama, mempertukarkan dan/atau mengintegrasikan sumber daya tertentuuntuk mendapatkan keuntungan sinergis; dan (3) pelayanan jasa iptek.Meskipun telah ada payung hukum kemitraan dunia industri-lembagariset, bahkan adanya reward berupa insentif fi skal dan nonfi skal,tetap saja kenyataannya sampai saat ini tingkat keengganan atauketerlibatan dunia industri di Indonesia terhadap hasil risetdipandang masih sangat rendah. Padahal penggunaan teknologi lokal jugamerupakan bagian dari nation branding atau pembentukan citra Indonesiadi mata dunia internasional.Dukungan pemerintah Salah satu pilar pokok menuju bangsa yang mandiriadalah riset. Kemajuan yang dicapai sejumlah negara di Asia sepertiThailand, Malaysia, dan Jepang tak lepas dari peran pemerintahmemajukan dunia riset. Anggaran riset di sejumlah departemen,kementerian, dan lembaga riset negara masih terlalu sedikit jikadibandingkan dengan perkembangan problem kehidupan dan tuntutaninovasi teknologi. Pada 2008, anggaran riset Indonesia hanya 0,07 persendari produk domestik bruto (PDB).

Anggaran riset Thailand mencapai empat kali, dan Jepang 45 kali, lebihbanyak daripada Indonesia.

Sementara itu dana riset ideal di Indonesia seharusnya minimal 0,7 persen-1 persendari PDB. Data yang ada menunjukkan anggaran riset di KNRT dan LPNDpada 2009 hanya sebesar 0,3 persen dari APBN atau 0,04 persen dari PDB.

Tolok ukur pembangunan bangsa juga dapat dilihat dari berapa jumlah peneliti di negaratersebut. Para peneliti merupakan kelompok elite masyarakat dalam segipendidikan dan intelektualitas, umumnya berpendidikan sarjana sampaidoktor, berjumlah kurang dari 5 persen total penduduk Indonesia. Komunitaspeneliti memberikan kontribusi melalui beragam terobosan baru kayaakan inovasi dan nilai-nilai intelektual.

Keberadaan peneliti di Indonesia sampai saat ini dianggap masih belummenjadi sumber daya manusia penting untuk memajukan bangsa. Ditandaidengan tingkat kesejahteraan peneliti yang masih sangat rendah bahkanbila dibandingkan dengan koleganya, guru dan dosen.

Secara relatif, tunjangan fungsional peneliti di Indonesia tergolongrendah jika dibandingkan dengan tanggung jawab dan beban tugasnyasebagai tenaga ahli di bidangnya. Melihat ke negeri jiran Belakanganini dengan banyaknya pemberitaan di media tentang hubungan yang kurangharmonis dengan Malaysia, profesi peneliti pun ‘terbawabawa’ terhadappermasalahan dalam negeri peneliti di Indonesia. Seperti pemaparandalam koran ini sebelumnya, ‘Nasib Peneliti di Ujung Tanduk’ yangmenyinggung perbandingan gaji profesor riset yang sudah mengabdi 38tahun dengan profesor di universitas yang perbedaannya hampir lebihdari separuh. Bahkan akan lebih jauh lagi bila dibandingkan dengangaji periset di negeri jiran, hanya kurang dari sepersepuluh dari gajiperiset Malaysia.

Sebagai indikasi produktivitas di bidang riset, jumlah publikasiilmiah di jurnal internasional hasil karya ilmuwan Indonesia selama 10tahun dari 1992 sampai 2002 adalah sebanyak 2.948 paper. Jumlah inijauh di bawah Malaysia yang mencapai 10.674, dan hanya terpaut sedikitdengan satu, Universitas Malaya (UM), Malaysia.upaya peningkatan kesejahteraan peneliti dan menjaga agar riset yangdilakukan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat/industri. Penelitiideal tentunya adalah peneliti yang sejahtera dan berprestasi.

Selain itu, peranan anggaran riset yang ideal juga sangat krusialdalam memacu para peneliti untuk lebih menghasilkan karya ilmiah yangberguna.Salah satu tolok ukur kemajuan bangsa yakni banyaknya penemuan/inovasiyang dihasilkan. Minimnya dana riset di Indonesia memang sangatmemprihatinkan.

Namun, di luar persoalan kurangnya anggaran, untuk mencapai hasilmaksimal di bidang riset, penataan lembaga riset juga perlu dilakukandengan melibatkan sektor swasta agar riset dapat lebih dimanfaatkan.Dengan tumbuh budaya inovatif dan inventif, kita berharap dan bercita-cita akan menjadi bangsa yang makmur, bermartabat, sertadiperhitungkan bangsa-bangsa lain. Tidak lagi menjadi kuli bangsa-bangsa di antara bangsa-bangsa.Tidak lagi menjadi bangsa pencari upah belaka dan juga tidak lagisebagai bangsa pemakan upah di antara bangsa-bangsa.Semoga riset anak bangsa akan mampu mengangkat harkat bangsa ke arahyang lebih baik dalam membangun bangsa berbasis pengetahuan.

Deni Shidqi Khaerudini, Peneliti muda di Puslit Fisika LIPI

Sumber: http://www.lipi.go.id/www.cgi?berita&1291158159&1&2010&

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: