Tidak Selamanya Tsunami Akibat Gempa Besar


PADANG–MICOM: Ada kesalahan dalam sosialisasi tsunami selama ini yang menyatakan tsunami diakibatkan gempa besar. Sosialisasi yang dipakai untuk Mentawai, Sumatra Barat, juga seharusnya berbeda dengan daerah di daratan Sumatra.

Hal tersebut dipaparkan Peneliti Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto setelah melakukan penelitian berbagai kawasan yang terkena tsunami Mentawai, Rabu (10/11). Ia meneliti bersama delapan pakar tsunami dari LIPI, Universitas Tokyo dan Universitas Hokkaido Jepang.

“Dalam kasus Mentawai, masyarakat mengira, karena guncangan gempa tidak terlalu besar, gempanya tidak besar. Padahal, itu gempa besar yang guncangan tidak dirasakan keras dan memang menyebabkan tsunami,” jelas Eko.

Selama ini, menurut Eko, sering diinformasikan, gempa yang berpotensi tsunami, adalah gempa denga skala 6,3 skala Richter ke atas. “Sementara itu, masyarakat tidak tahu bagaimana gempa dengan skala itu. Yang dirasakan masyarakat, seberapa besar guncangannya,” ujarnya.

Dalam kasus gempa 7,2 SR di Mentawai, masyarakat tidak merasakan guncangan gempa terlalu besar, sehingga banyak yang santai. “Setelah gempa, masyarakat kembali masuk ke rumah. Mereka baru ke luar ketika mendengar suara keras dari arah pantai lima menit kemudian, dan itu sudah terlambat.”

Padahal, menurut Eko, tidak mesti gempa besar dan gempa yang guncangan besar yang menyebabkan tsunami. “Gempa 5 SR pun bisa berakibat tsunami. Biasanya, tsunaminya dari gempa dengan skala ini akibat dipicu ada material yang longsor di bawah laut. Ini yang terjadi di Maumere tahun 1992 dan di Selat Makassar,” jelasnya.

Eko juga mengatakan, sosialisasi tsunami untuk masyarakat di pulau-pulau terluar Sumatra sejak dari Simelue, Nias, Mentawai hingga ke Enggano tidak bisa disamakan dengan Sumatra daratan. “Kalau daratan Sumatra, mungkin masuk akal masih ada waktu sekitar 30 menit. Kalau pulau terluar, seperti dalam kasus Mentawai tidak ada waktu. Jadi, untuk daerah pulau-pulau tersebut, begitu ada gempa, sebaiknya segera lari ke bukit. Tidak usah memantau laut,” ujarnya.

Selain itu, hasil penelitian tim ini juga menyebutkan, tsunami Mentawai rata-rata hempasannya di pantai setinggi enam sampai tujuh meter. Tsunami datang dalam lima menit, karena kecepatannya di laut dalam sekitar 800 km/jam dan semakin lambat begitu mendekati pantai. “Ketika menyentuh daratan, kecepatan tsunami Mentawai sekitar 30 km/jam sampai 40 km/jam,” kata Eko.

Setelah tsunami melanda, beberapa pulau di Kepulauan Mentawai, naik hingga 1,5 meter. Hal ini dibuktikan dengan naiknya terumbu karang yang selama ini terendam di dalam air laut. (HR/OL-2)

link berita:
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/11/10/180999/274/101/Tidak-Selamanya-Tsunami-Akibat-Gempa-Besar

Sumber: http://www.lipi.go.id/www.cgi?berita&1289533422&&2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: