PEUYEUM JERAMI KOMPLIT, Pakan Refill yang Ramah Lingkungan


Oleh: Ahmad Sofyan*

* Peneliti pada BPPT Kimia-LIPI danMahasiswa Magister Ilmu Peternakan UGM – Jogjakarta
Sumber: Infovet, Edisi 195 – Oktober 2010

Seiring dengan semakin menipisnya persediaan pakan hijauan, usaha peningkatan ketahanan pakan menghadapi ancaman yang tidak ringan guna mencapai swasembada daging nasional yang ditargetkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) dapat dipenuhi di 2014 nanti. Program ini harus didukung upaya penyediaan pakan di daerah kantong ternak agar tidak terjadi ’kerawanan’ pakan.

Beberapa usaha yang telah dilakukan dengan berbagai implementasi teknologi pengolahan pakan belum cukup efektif mengatasi ’kerawanan’ pakan di daerah lumbung ternak yang umumnya minim akan hijauan. Kerawanan pakan ini telah berdampak pada menurunnya populasi ternak, peternak rela menjual ternaknya untuk membeli beberapa ikat hijauan pakan seperti tebon tanaman jagung untuk sekedar memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.

Sementara itu, pola pengolahan pakan limbah pertanian maupun sisa panen tanaman pangan (jerami) yang dilakukan oleh sebagian besar peternak belum cukup memenuhi kebutuhan gizi ternak sehingga penambahan pakan konsentrat harus dilakukan untuk mecapai pertambahan berat hidup ternak. Di tengah segala keterbatasan sumber daya bahan pakan hijauan dan minimnya modal untuk budidaya ternak, sentuhan teknologi alternatif dalam pengolahan pakan yang mudah diterapkan (aplikatif) di tingkat peternakan rakyat sangat diperlukan.

Peuyeum Jerami Komplit

Jerami dikenal sebagai bahan pakan sisa panen tanaman pertanian yang cukup melimpah ketersediaan pada saat panen raya. Namun pemanfaatanya masih terkendala dengan kualitas nutrisi / kadar protein dan palatabilitas yang rendah sehingga kurang disukai ternak. Selain itu, kelimpahan jerami pada musim penghujan telah menyebabkan penyimpanan jerami dalam bentuk kering sulit dilakukan, bahkan terkadang jerami dibiarkan terbuang dan rusak oleh jamur ataupun mikroba pembusuk.

Pengolahan jerami dengan fermentasi menjadi ’peuyeum jerami’ adalah alternatif teknologi pengolahan pakan yang tidak sekedar mengawetkan namun juga menambah nilai gizi. Kata peuyeum sendiri berasal dari bahasa sunda yang searti dengan tape singkong. Kelebihan yang dimiliki pengolahan jerami ini adalah dapat dilakukan dalam kondisi kadar air tinggi sehingga tetap dapat dilakukan pada musim penghujan.

Prinsip pembuatan peuyeum jerami ini adalah pengembangan metode pembuatan silase yang merupakan salah satu teknologi pengolahan pakan yang sudah lama dikenal. Teknologi silase umumnya dilakukan di negera yang beriklim sub tropis (seperti Amerika, Eropa dan Australia) dan terbukti cukup efektif dalam menyediakan pakan di musim dingin, dimana persediaan hijauan segar sangat minim.

Namun, di negara tropis seperti Indonesia belum banyak dilakukan karena banyak peternak yang belum yakin akan efektivitas teknologi silase. Hal ini juga dipersulit dari ketersediaan sarana produksi silase dan terbatasnya tempat pemeraman / fermentasi (bunker) disamping kendala teknis lain seperti perlunya alokasi waktu pembuatan silase. Berbagai kendala tersebut telah diupayakan cara untuk mengatasi, yakni dengan melakukan modifikasi teknologi silase menjadi silase komplit (peuyeum).

Aplikasi teknologi ini tidak harus memerlukan tempat pemeraman luas (bunker), namun dapat diganti dengan pemakaian tong plastik bekas ataupun sejenisnya. Kemudahan lain dari teknologi ini adalah peyeum jerami yang dihasilkan lebih stabil (tahan) dalam kondisi fakultatif (masih ada udara) dibandingkan silase biasa, sehingga lebih tahan lama disimpan.

Proses pembuatan peuyeum jerami ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu1) persiapan bahan, 2) pencampuran dan pengemasan, 3) pemeraman/ penyimpanan. Persiapan bahan pakan dilakukan dengan pencacahan rumput dengan ukuran cacahan 1-3 cm. Pencacahan dapat dilakukan secara manual atau menggunakan mesin pencacah rumput (chopper). Langkah berikutnya adalah pencampuran, pada tahapan ini bahan-bahan sebelum dicampur perlu ditimbang terlebih dahulu berdasarkan formula. Perbandingan bahan yang dicampur adalah 15-30 persen jerami, 20-35 persen rumput gajah, 10-15 persen dedak padi, 10-15 persen onggok (ampas tapioka), 5 persen ampas tahu dan 1 persen garam+mineral. Penambahan air sangat disesuaikan dengan kondisi bahan dan air yang ditambahkan sekitar berkisar 15-25 persen (Kadar air campuran 40-60 persen). Setelah semua bahan tercampur secara merata (homogen), dilakukan pengemasan dan pemeraman selama 21 hari. Sebelum diberikan ke ternak, peuyeum yang dihasilkan diangin-anginkan sekitar 5-10 menit dan pemberiannya ke ternak secara bertahap untuk proses penyesuaian (adaptasi).

Lebih Bernutrisi dan Ramah Lingkungan

Manfaat lain dari pembuatan jerami menjadi peuyeum adalah untuk mengatasi rendahnya kualitas bahan pakan ternak terutama dari limbah pertanian seperti jerami sehingga produktivitas ternak dapat ditingkatkan. Hasil penelitian yang dilakukan Sofyan dkk (2007) menyebutkan bahwa bahan pakan jerami yang dibuat peuyeum selain lebih tinggi kadar proteinnya, juga lebih disukai ternak (palatable) dan tahan penyimpanan. Hal ini dapat terlihat dari rendahnya kualitas jerami (tanpa pengolahan) yang berkadar protein kasar hanya 2,5 persen dan palatabilitas hanya 20 persen. Namun, jika diolah menjadi peuyeum, kualitasnya meningkat dengan kadar protein menjadi 9 persen dan lebih disukai hingga 90 persen. Peningkatan kualitas ini selain disebabkan dari penambahan komponen bahan pada formula peuyeum, juga disebabkan dari peranan proses fermentasi yang mampu menurunkan kadar serat kasar, jika kadar serat menurun maka secara relatif kadar protein dapat meningkat.

Selain itu, penerapan teknologi ini dimaksudkan untuk mengatasi kendala rendahnya kecernaan (digestibility) bahan pakan sehingga kehilangan energi dalam bentuk emisi gas metan (CH4) pada metabolisme (penguraian zat makanan) dalam saluran pencernaan dapat dikurangi. Gas metan sendiri merupakan wujud kehilangan energi (loss energy) dari pakan dan berkisar 6-10 persen dari energi yang masuk lewat pakan. Peningkatan kadar (akumulasi) gas metan di udara dapat menyebabkan pemanasan global.

Perlakuan fermentasi (pembuatan peuyeum), komponen pakan yang sukar dicerna (indigestible) seperti serat kasar pakan dapat diturunkan sehingga produksi asam propionat lebih dapat ditingkatkan. Asam propionat adalah salah satu jenis asam lemak atsiri (VFA, volatile fatty acids) yang merupakan hasil fermentasi zat makanan dalam rumen (bagian lambung ternak). Jika rasio asam propionat : asetat lebih tinggi, produksi gas metan lebih rendah, yang berarti kehilangan energi juga menurun. Dengan demikian, pengolahan jerami padi dengan fermentasi menjadi produk pakan ‘peuyeum jerami komplit’ dapat menjadikan jerami lebih bergizi dan kehilangan energi pakan dalam bentuk emisi metan dapat dikurangi sehingga pakan yang diberikan lebih ramah lingkungan.

Pakan Isi Ulang (Refill)

Mahalnya biaya kemasan pakan fermentasi ’peuyeum jerami’ merupakan kendala aplikasi di masyarakat, karena kemasan yang diperlukan tidak mudah ditembus air dan udara sehingga harganya cukup mahal. Untuk menanggulanginya, pemakaian tong plastik bekas dapat digunakan sebagai kemasan pakan fermentasi. Pemakaian tong plastik merupakan analogi dari kemasan isi ulang (refill) seperti halnya ’galon’ untuk kemasan air isi ulang. Konsep kemasan pakan fermentasi isi ulang dapat dilakukan untuk menekan harga sehingga lebih murah sehingga para peternak lebih dimudahkan dengan menukar kemasan kosong dengan yang sudah terisi,

Terobosan ini lebih mudah diterima dan dilakukan secara kelompok ataupun dalam bentuk usaha bisnis (koperasi), dimana ada bagian produsen (stasiun isi ulang) dan pengguna (peternak). Pemakaian kemasan isi ulang ini lebih dapat mempertahankan kualitas karena kemasan yang digunakan lebih menjamin kondisi ideal untuk proses fermentasi. Kemasan isi ulang juga akan menjadikan peternak tidak terbebani dengan mahalnya biaya kemasan dan lebih praktis tanpa membuat peuyeum jerami sendiri, mengingat sebagian besar peternakan rakyat merupakan usaha sampingan. Disisi lain, bagi produsen peuyeum jerami, dapat menjadikan hal ini sebagai usaha bisnis baru.

Penerapan teknologi alternatif pengolahan jerami padi menjadi pakan fermentasi bentuk peuyeum perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak. Sinergisme antar kelompok peternak serta dukungan modal usaha dan kebijakan dari pemerintah sangat diperlukan dalam mendukung penyediaan pakan. Kendala penyediaan bahan pakan bukan menjadi hambatan program swasembada daging, karena masih melimpahnya limbah pertanian. Limbah pertanian akan lebih bernilai guna sebagai sumber bahan pakan yang bernutrisi dan ramah lingkungan dengan pengolahan jerami menjadi peuyeum jerami komplit sehingga kerawanan pakan dapat diantisipasi.

Sumber: http://www.lipi.go.id/www.cgi?berita&1289270854&&2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: