Empat Tanggung Jawab Peneliti


Seseorang yang berprofesi sebagai peneliti dikatakan berhasil meniti karier apabila dia konsekuen dan konsisten terhadap kepakarannya. Peneliti yang istiqomah tentunya akan memiliki kepangkatan atau golongan maksimal sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Di samping itu, peneliti wajib terus-menerus meningkatkan kredibilitasnya melalui peningkatan kompetensi, kreativitas, integritas, dan komunikasi melalui sarana kegiatan ilmiah yang ada.

Dilihat dari jenjangnya, karier peneliti di lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah terbagi menjadi empat, yaitu Peneliti Pertama (IIIa dan IIIb), Peneliti Muda (IIIc dan IIId), Peneliti Madya (IVa, IVb, dan IVc), serta Peneliti Utama (IVd dan IVe). Kepala Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan Peneliti LIPI M Bashori Imron menjelaskan setiap kenaikan jenjang jabatan peneliti diatur di dalam suatu peraturan yang disusun sendiri komunitasnya yang dikoordinasikan LIPI selaku instansi pembina jabatan peneliti di Indonesia.

Peraturan tersebut meliputi petunjuk teknis jabatan fungsional peneliti dan angka kreditnya, pedoman akreditasi majalah ilmiah, penentuan bidang penelitian atau kepakaran peneliti, serta pengukuhan peneliti utama sebagai profesor riset. Gelar profesor riset merupakan incentive nonmaterial terhadap komunitas peneliti. Pasalnya, sampai saat ini belum ada keperpihakan pemerintah untuk memberikan insentif material yang memadai kepada komunitas peneliti.

Gelar tersebut diharapkan dapat lebih memacu peningkatan kualitas penelitian serta kualitas pembimbingan kepada para peneliti junior. Bashori mengatakan mereka umumnya sudah melakukan kerja sama penelitian dan pembimbingan doctorates dengan pihak universitas, utamanya dengan lembaga-lembaga penyelenggara program pascasarjana di perguruan tinggi.

Profesor riset merupakan pengakuan dan kepercayaan terhadap keberhasilan seseorang dalam mengemban tugas penelitian sekaligus merupakan penghormatan atas pengangkatan sebagai peneliti utama. Jabatan tersebut dapat diberikan oleh suatu perguruan tinggi, utamanya yang berbentuk universitas riset atau lembaga akademi lainnya yang bukan berbentuk perguruan tinggi, seperti Rusia Academy of Sciences (RAS), China Academy of Sciences (CAS), dan Indian National Sciences Academy (INSA).

Ketiga lembaga tersebut bukan merupakan lembaga pendidikan tinggi, namun merupakan lembaga penelitian tertinggi (higher research institute), yang sangat berwibawa di negaranya masing-masing. Baik RAS, CAS, maupun INSA memberikan jabatan atau gelar riset profesor (bergantung pada negaranya) dengan kriteria masing-masing, dan pemegang jabatan tersebut akan dievaluasi setelah lima tahun. Penetapan regulasi jenjang jabatan peneliti, lanjut Bashori, merupakan upaya yang ditempuh LIPI.

Secara formal, aturan tersebut ditandatangani oleh pejabat berwenang, mulai dari Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (Menpan), Kepala LIPI, hingga Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) dalam bentuk surat keputusan. “Pada hakikatnya jenjang itu dibuat dan dirumuskan oleh komunitas peneliti sendiri. Hal tersebut sebagai prinsip profesi, rumah tangga profesi diatur komunitasnya sendiri,” ujar Bashori.

Komunitas tersebut bukan hanya LIPI, tetapi juga instansi atau kementerian yang memiliki unit litbang dan daerah. Bahkan komunitas peneliti mencakup komunitas peneliti non-PNS. Perangkat aturan yang telah diselesaikan dan aturan lain yang akan dilengkapi merupakan upaya LIPI sebagai institusi yang diberi amanat sebagai Instansi Pembina Jabatan Fungsional Peneliti, dan menumbuhkembangkan profesi peneliti menjadi profesi yang bermartabat.

Oleh karena itu, kode etik peneliti LIPI memberi sinyal bahwa peneliti wajib berpegang pada nilai-nilai integritas, kejujuran, dan keadilan. Integritas peneliti melekat pada ciri seorang peneliti yang mencari kebenaran ilmiah. Bashori mengatakan dengan menegakkan kejujuran, keberadaan peneliti diakui sebagai insan yang bertanggung jawab. Dengan menjunjung keadilan, martabat peneliti pun akan tegak dan kokoh karena ciri moralitas yang tinggi itu.

Sesuai dengan nilai-nilai tersebut, peneliti memiliki empat tanggung jawab, yakni terhadap proses penelitian yang memenuhi baku ilmiah, terhadap hasil penelitian yang memajukan ilmu pengetahuan sebagai landasan kesejahteraan manusia, dan terhadap masyarakat ilmiah yang memberi pengakuan di bidang keilmuan peneliti tersebut.

Ketiga al tersebut merupakan bagian dari peningkatan peradaban manusia. Tanggung jawab keempat pada kehormatan lembaga yang mendukung pelaksanaan penelitiannya. Jadi, di mana pun dan kapan pun, seorang peneliti wajib memegang teguh keempat tanggung jawab itu.

KORAN JAKARTA
Rabu, 3 November 2010
Hal. 19

Sumber: http://www.lipi.go.id/www.cgi?berita&1288749559&&2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: