Mengadang Plagiarisme Karya Kaum Intelek


Jasmal A Syamsu, Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Sulawesi Selatan, pernah melayangkan surat somasi mengenai dugaan plagiarisme buku yang diterbitkan IPB Press berjudul Sumber dan Ketersediaan Bahan Baku Pakan di Indonesia. Jasmal menduga di dalam buku yang ditulis oleh Heri Ahmad dan Rantan Krisnan pada 16 Juli 2010 itu terdapat tulisan dan data-data yang dijiplak dari artikelnya yang berjudul “Daya Dukung Limbah Pertanian sebagai Sumber Pakan Ternak Ruminansia di Indonesia”.

Pakar sapi kelahiran Watampone, Sulawesi Selatan, 5 November 1968, itu merasa keberatan karena penulis buku dari IPB tidak mencantumkan sumber tulisan berupa teks maupun daftar pustaka. Kontan, penjiplakan itu mencoreng nama Institut Pertanian Bogor (IPB).

Kasus serupa pernah menimpa Institut Teknologi Bandung (ITB) akibat ulah Mochammad Zuliansyah yang diduga melakukan plagiarisme karya ilmiah. Makalah Zuliansyah yang berjudul “3D Topological Relations for 3D Spatial Analysis” dianggap sebagai plagiasi paper bertajuk “On 3D Topological Relationships” yang ditulis Siyka Zlatanova, Theme Leader Geo Information for Disaster Management di OTB Institute for Housing, Urban and Mobility Studies di Delft University of Technology, Delft, Belanda.

Akibatnya, Zuliansyah mesti menelan pil pahit. Ijazah serta disertasinya tidak diakui. Dampak negatif dari plagiarisme itu juga merambat pada tiga orang pembimbing Zuliansyah, yakni Carmadi Machbub, Suhono Harso Supangkat, dan Yoga Priyana. Ketiganya mendapatkan surat teguran dari rektor karena dinilai kurang cermat memberikan bimbingan kepada mahasiswa mereka. Sebenarnya, dugaan adanya aksi plagiarisme itu tidak hanya terjadi di perguruan tinggi, tetapi juga di lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan milik pemerintah.

Dunia akademi Indonesia pernah tercoreng lantaran adanya dugaan oknum peneliti dari suatu lembaga penelitian pemerintah melakukan plagiarisme demi kenaikan pangkat. Bagi orang yang kedapatan melakukan plagiarisme, sebenarnya akan dikenai sanksi yang cuku berat. Dalam aturan yang ditetapkan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), misalnya, sanksi terberat atas aksi penjiplakan terhadap karya ilmiah ialah pemberhentian jabatan peneliti.

Menurut M Bashori Imron, Kepala Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan Peneliti LIPI, profesi peneliti, sebagaimana profesi lainnya, selalu berkaitan dengan pekerjaan yang mensyaratkan adanya knowledge, skill, dan attitude dengan dukungan sistem pendidikan dan pelatihan. Pekerjaan profesional mengandung pula tingkatan kemampuan yang senantiasa perlu ditingkatkan. Peningkatan jenjang itu diatur dalam jenjang karier peneliti.

Etika Ilmiah

Di atas itu semua, tutur Bashori, suatu pekerjaan dapat dianggap sebagai suatu profesi bilamana memiliki landasan etika yang selanjutnya diturunkan menjadi code of conduct. “Dokter, akuntan, arsitek, dan pengacara memiliki etika profesi sendiri. Demikian pula peneliti,” ujar dia. Bashori melanjutkan prinsip utama dalam suatu profesi ialah adanya landasan etika, code of conduct, sistem pengembangan karier, dan kelembagaan yang melaksanakan prinsip-prinsip tersebut.

Etika profesi di dalam penelitian acuan dasarnya jelas bersumber pada etika ilmiah dan metode ilmu pengetahuan yang berlaku secara universal. Etika ilmiah tersebut telah ditetapkan LIPI dan wajib dijunjung tinggi oleh semua peneliti. Agar etika tersebut dipatuhi, mesti ada perangkat kelembagaan yang menjalankannya, dalam hal ini Majelis Profesor Riset.

Di tingkat instansi unit penelitian dan pengembangan (litbang), dibentuk Tim Penilai Peneliti Instansi (TP2I) yang menetapkan originalitas karya tulis ilmiah (KTI) dan penilaiannya. Sedangkan di tingkat nasional, dibentuk Tim Penilai Peneliti Pusat (TP3) yang menentukan penilaian kenaikan jabatan peneliti.

Pihak LIPI, melalui TP3, bahkan telah mendesentralisasi kewenangannya dengan memberikan akreditasi kepada tujuh instansi litbang pemerintah (Batan, Lapan, LIPI, Kementerian ESDM, Kementerian Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Pertanian) untuk menilai dan menetapkan sendiri jenjang jabatan peneliti sampai dengan jenjang peneliti muda IIId. Untuk memberikan fondasi yang kokoh bagi kandidat peneliti dalam melakukan penelitian, LIPI menyelenggarakan sertifi kasi pendidikan dan pelatihan peneliti tingkat pertama dan tingkat lanjutan.

Demikian juga terhadap sarana, untuk memublikasikan KTI peneliti, LIPI telah memberikan akreditasi pada lebih dari 163 jurnal ilmiah terbitan unit litbang sebagai jurnal yang terakreditasi secara nasional. “Tentu saja kami sangat menyadari bahwa bagaimanapun ketentuan yang berlaku dalam skala nasional tersebut, keberhasilan implementasinya tidak dapat dibebankan pada LIPI sendiri,” kata Bashori.

Ibarat aliran sungai, tambah Bashori, proses pembinaan yang sampai ke meja LIPI berasal dari sumbernya di bagian hulu, yaitu unit litbang instansi dan LPND. Tidaklah mungkin mengharapkan kualitas dan kinerja peneliti yang baik hanya melalui penilaian di bagian hilir, tetapi juga mesti melalui proses awal yang baik di hulunya.

Pembenahan sumber daya peneliti dari tingkat awal itulah yang paling menentukan wibawa peneliti dan unit penelitiannya. Stigma litbang yang berarti sulit berkembang akan terus ada apabila perekrutannya atau unit litbang hanya dijadikan tempat parkir mantan pejabat struktural atau hanya untuk memperpanjang usia pensiun.

Stigma tersebut wajib diubah menjadi litbang yang berarti elite dan membanggakan dengan melakukan perekrutan, pembinaan karier, serta pengembangan sistem reward and punishment yang dilakukan secara berkesinambungan dan sinergis di antara instansi litbang hingga Tim TP3.

KORAN JAKARTA
Rabu, 03 Nopember 2010
Hal. 19

Sumber: http://www.lipi.go.id/www.cgi?berita&1288748933&&2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: