Jembatan Ambrol


Manusia memang amat suka dipangku, dipuji-puji, dielus-elus, juga ditipu-tipu sedikit. Bahkan terkadang itu merupakan satu-satunya jalan untuk mempertahankan daya hidup.

Dalam tradisi kehidupan orang Jawa, pangku-memangku dianggap sebagai tipologi perpolitikan Jawa. Lihat saja, di Jawa tidak dikenal kudeta. Hakikatnya mungkin kudeta, tetapi syariatnya berupa peralihan kekuasaan ‘normal’ yang seolah-olah bukan kudeta, bahkan tampak sebagai pewarisan yang disengaja. Si mantan Raja tetap ‘dipangku’, dikenang jasa-jasanya, meskipun dijaga jangan sampai terjadi mitologisasi yang merongrong kekuasaan si Raja baru.

Para oposan, atau siapa saja yang menunjukkan gejala ‘tidak segaris’ dengan si Raja, asal jangan ekstrem seperti Ronggolawe atau separatis seperti Kuti di zaman Majapahit, tidak akan ditendang begitu saja. Merka tetap diberi kursi di sekitar Istana, entah di bidang olahraga, perdapuran atau institusi lain yang tidak akan menjadi ancaman bagi singgasana si Raja.

Tradisi pangku-memangku ini sejatinya bukan hanya terjadi di kalangan orang Jawa, bahkan merupakan sesuatu yang universal. Kisah Jembatan Ambrol berikut barangkali cukup menjelaskan bagaimana manusia itu dan mudah-mudahan menjadi refleksi bagi kita agar lebih baik lagi.

Seorang lelaki setengah baya asal Sumenep naik KA dari Surabaya menuju Jakarta. Sepanjang perjalanan, lelaki itu meletakkan tangannya di bibir jendela, lengannya ditekuk, sehingga sikutnya meruncing keluar. Paniklah orang-orang di sekitarnya, khawatir terjadi apa-apa terhadap orang ini.

Tak ada yang berani menegurnya, karena lelaki itu sedemikian gagah dan besar tubuhnya, serta wajahnya garang.

Namun demi keselamatan bersama, seorang pemuda memberanikan diri membisikinya, ” Pak, maaf ya, ada baiknya tangan Bapak jangan dikeluarkan, nanti kalu kena tiang atau benda lain, kan kasihan tangan Bapak”. Maka melototnya mata si lelaki itu, tangannya malah diselonjorkan panjang-panjang keluar jendela, wajahnya sinis.

Seorang ibu berusaha memberi tahu, “Pak, di KA tidak boleh mengeluarkan anggota badan…” Namun parah, lelaki itu makin jauh keluar, bahkan kepalanya dimiringkan keluar jendela. Cemaslah seluruh penumpang di gerbong itu.

Akhirnya seorang lelaki lain mencoba mendekati lelaki itu, ia tersenyum, kemudian wajahnya berubah menjadi cemas dan penuh kekhawatiran, berkatalah ia, “Pak, saya yakin Bapak ini orang yang baik hati dan tidak ingin semua penumpang KA ini susah. Kalau tangan Bapak dikeluarkan begitu, nanti kalau ada jembatan kan pasti ambrol, sehingga susahlah kita semua…”

“Oooo…!” Lenguh lelaki itu seraya spontan menarik tangan dan kepalanya masuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: