Mengungkapkan ekspresi-ekspresi


Seorang kawan pernah berujar :

“Kita memang orang LIPI, harus bangga tentunya dgn Institusi ini. Bagi sebagian orang di luar LIPI, kantor kita seperti menara gading tanpa keretakan, tetapi rasakanlah sendiri segudang keretakan yg kita jalani dlm keseharian didalamnya, masih mampukah kita dgn tegak berdiri dan percaya diri “saya karyawan LIPI”. Tentunya apapun yg terjadi kita harus tetap OPTIMIS !”

Inilah realitas hidup yang harus kita hadapi. Namun setidaknya “Jiwa-jiwa merdeka” dapat bebas mengungkapkan ekspresi-ekspresi. Pada hakikatnya ini “hanyalah” salah satu cara untuk bertahan menjadi manusia.

Boleh jadi setiap saat kita selalu memerlukan keragu-raguan tentang apakah kita ini masih manusia atau tidak. Kebanyakan kita mungkin terlalu yakin bahwa tidak ada hal-hal cukup penting yang membuat kita perlu merasa bukan manusia. Padahal di tengah-tengah struktur sosial kehidupan bersama manusia, terdapat sangat banyak hal yang membuat kita menjadi, pertama-tama, peran-peran, fungsi-fungsi, kemudian reduktif lagi menjadi sekedar alat-alat.

Tidak sering kita berjumpa dengan manusia. Yang berpapasan dengan kita adalah pedagang, birokrat, aparat kekuasaan, pejuang-pejuang diri dengan seribu macam “ananiyah” ekonomis, politis dan kultural. Jarang kita mendengar pendapat manusia, pikiran manusia dan sikap manusia. Yang pada hakikatnya kita hadapi kebanyakan -kalau dalam politik adalah pendapat fungsionaris, bukan “pendapat pribadi”, sebab yang terakhir ini jatah waktunya adalah sesudah pensiun. Yang lebih banyak sampai kepada kita adalah -misalnya- pikiran kelas rakyat terjajah, pikiran ilmuwan yang lebih karyawan daripada ilmuwan. Yang lebih sering kita alami adalah sikap makhluk-makhluk reduktif yang mengalami keputusasaan global meskipun tidak kentara.

Ini hanyalah sedikit eksperimentasi untuk memberitahukan kepada banyak orang bahwa manusia dan kemanusiaannya sesungguhnya tetap bisa dipertahankan. Barangkali juga sekedar mengupayakan agar di tengah-tengah riuh rendah orkestra zaman yang dahsyat ini, sesekali terdengar dentingan logam hati nurani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: