Memberdayakan atau memperdayakan ?


Memberdayakan atau memperdayakan ?

Oleh: Budi Nugroho

Pada masa-masa sekarang ini, kemajuan teknologi informasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan manuasia. Hal ini semakin terasakan bahwa hampir tidak ada lagi batasan ruang dan waktu dalam mengakses informasi. Informasi apa pun yang kita inginkan dapat kita peroleh dalam waktu seketika. Layanan dokumentasi dan informasi ilmiah yang menjadi tugas pokok institusi PDII-LIPI mau tidak mau harus menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi tersebut.

Kita pun mengetahui bahwa semakin banyak institusi lain di tanah air yang juga bergerak di bidang layanan dokumentasi dan informasi ilmiah. Perpustakaan perguruan tinggi, instansi pemerintah dan swasta telah memantapkan diri dalam menyongsong era persaingan yang semakin ketat, terutama dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas layanannya. Bahkan sebagian besar perpustakaan telah mengembangkan konsep perpustakaan digital yang dapat diakses dari internet di seluruh dunia.

PDII-LIPI sebagai salah satu institusi pelopor layanan dokumentasi dan informasi sudah seharusnya mempersiapkan berbagai antisipasi untuk menghadapi perkembangan yang ada. Peningkatan infra struktur pendukung termasuk penambahan sarana komputer dan penerapan sistem manajemen terpadu melalui intranet adalah beberapa contoh yang telah diterapkan oleh manajemen PDII-LIPI.

Namun, hal lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah masalah pengelolaan sumber daya manusia. PDII-LIPI yang didukung oleh lebih dari 150 karyawan tetap dan honorer seharusnya dapat memberikan layanan dokumentasi dan informasi yang lebih baik lagi. Jumlah sumber daya manusia yang cukup banyak dengan latar belakang keahlian yang beraneka ragam dan pendidikan yang memadai merupakan aset yang sangat berharga bagi institusi PDII-LIPI.

Sebagai institusi pemerintah, status karyawan tetap PDII-LIPI adalah pegawai negeri sipil yang terikat oleh peraturan-peraturan kepegawaian. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi manajemen PDII-LIPI untuk mengelola sumber daya manusia yang ada agar menghasilkan output yang optimal. Kita semua maklum bahwa budaya kerja pegawai negeri sipil sangat berbeda dengan pegawai swasta. Dan ini secara tidak langsung pasti berhubungan dengan feed back yang diterima, yaitu masalah pendapatan. Rekrutmen pegawai negeri sipil di PDII-LIPI yang cukup ketat merupakan salah satu upaya untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Namun upaya tersebut tidaklah cukup sampai pada proses seleksi saja, pembinaan dan pelatihan yang terus menerus adalah keniscayaan yang harus dilakukan oleh manajemen PDII-LIPI.

Kesenjangan yang cukup besar antara pendapatan karyawan swasta dengan pegawai negeri sipil sangat berpengaruh terhadap loyalitas karyawan terhadap PDII-LIPI. Meskipun ini sebenarnya merupakan pilihan hidup masing-masing orang, tetapi sebagai institusi, PDII-LIPI berkewajiban untuk mempertahankan karyawannya. Mempertahankan karyawan yang berkualitas di masa sekarang ini amatlah sulit. Kini orang lebih loyal kepada dirinya sendiri ketimbang pada institusi. Untuk dapat mempertahankan karyawan, institusi dapat saja memberikan berbagai imbalan dan iming-iming yang menarik. Harus dipahami bahwa bekerja bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan ekonomi tetapi juga kebutuhan psikologis, yaitu aktualisasi diri. Untuk mencapai aktualisasi diri, pemberdayaan di dalam institusi adalah kata kuncinya. Hanya dengan pemberdayaanlah institusi dapat memperoleh karyawan yang berkualitas.

Tujuan utama pemberdayaan adalah agar setiap karyawan dapat melepaskan potensi, kemampuan, dan energi yang mereka miliki demi kepentingan bersama. Namun, untuk dapat melepaskan potensi ini harus terdapat dua kondisi di dalam organisasi, yaitu pertama, individunya harus berdaya terlebih dahulu. Ini adalah persoalan kompetensi. Tanpa kompetensi, pemberdayaan berarti anarki. Karena itu institusi harus terlebih dahulu mengembangkan karyawannya agar dapat mandiri. Kedua, walaupun karyawannya sudah kompeten, belum tentu ia mau melepaskan semua kemampuannya untuk institusi. Ia masih menahan potensinya karena kurang adanya kepercayaan dari institusi.

Karena itu dari sudut pandang organisasi, memberdayakan berarti menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga potensi manusia dapat dimanfaatkan dan dikapitalisasi untuk organisasi. Dasar pemberdayaan adalah kepercayaan. Untuk bisa melepaskan potensinya karyawan harus memiliki rasa aman untuk melakukan tindakan apa pun selama masih berada dalam rambu-rambu organisasi, yaitu visi, misi dan nilai-nilai institusi.

Namun, pemberdayaan sering disalahpahami. Pimpinan yang mengaku sudah memberdayakan karyawannya, tetapi sebenarnya yang ia lakukan hanyalah memberikan tambahan tugas dan tanggung jawab, tanpa memberikan wewenang apapun. Padahal pemberdayaan mengandung dua komponen yaitu kewenangan dan tanggung jawab. Persoalannya, wewenang sering dilihat sebagai kekuasaan, sementara tanggung jawab sebagai beban. Logikanya orang cenderung berbagi beban tetapi tidak mau berbagi kekuasaan. Manajemen yang seperti ini sebenarnya tidak memberdayakan, tetapi memperdayakan karyawannya.

Dengan menyerahkan pengawasan, perencanaan, analisis, dan pengambilalihan keputusan pada bawahannya, seorang pimpinan justru dapat melakukan hal-hal lain yang lebih strategis, seperti menentukan visi, menciptakan iklim dan budaya organisasi, membangun aliansi strategis dan sebagainya. Dengan demikian kekuasaannya tidak berkurang, tetapi malah berlipat ganda dan lebih efektif.

Pemberdayaan itu sendiri merupakan proses yang panjang. Pemberdayaan akan menimbulkan komitmen. Karyawan akan melepaskan semua potensi yang dimiliki apabila mereka memiliki keterikatan dengan organisasi. Keterikatan ini dapat diperoleh dengan pemberdayaan. Pemberdayaanlah yang akan mengubah perasaan memiliki dari sekadar rasa memiliki menjadi rasa kepemilikan. Rasa memiliki bersifat pasif, sedangkan rasa kepemilikan bersifat aktif yang diwujudkan dalam bentuk inisiatif, keberanian untuk mengambil tanggung jawab dan resiko serta keinginan untuk berbagi. Rasa kepemilikan juga mengubah bentuk keterikatan orang dengan organisasi dari sekadar yang bersifat bisnis dan transaksional menjadi semacam keterikatan batin. Dengan rasa kepemilikan inilah orang akan senantiasa memberikan yang terbaik untuk organisasi.

One Response to Memberdayakan atau memperdayakan ?

  1. Ana Triana says:

    Penggunaan daun dadap sebagai bahan pupuk organik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: