Catatan mengikuti pelatihan bengkel kerja menulis bersama Putu Laxman Pendit


Catatan mengikuti pelatihan bengkel kerja menulis bersama Putu Laxman Pendit

Hari pertama, Selasa 21 November 2006

Pengalaman penulis terkenal, Gunawan Muhammad, untuk menghasilkan satu tulisan harus paling tidak lima kali. Remi Sylado, seorang penulis old fashion, tidak suka menggunakan komputer, di rumahnya terdapat beberapa mesin tik, setipa beliau mempunyai ide maka dituliskannay di salah satu mesin tik yang ada, kemudian berpndah ke mesin tik yang lainnya.

Di luar negeri industri buku agenda sangat digemari karena kebiasaan menulis tersebut. Berbeda dengan di negara kita, kalender lebih disukai karena menghitung-hitung hari libur.

Masalah kultur, di Indonesia tokoh dihargai karena kehadirannya. Kharisma seseorang lebih ditentukan oleh kemampuan bicaranya. Bisa jadi bukan masalah dia tidak bisa menulis, tetapi memangkebutuhan untuk memasuki kultur masyarakat.

Sebuah tulisan bisa muncul bila dibutuhkan. Tuntutan pekerjaan dapat memotivasi seseorang menulis. Kewajiban membuat laporan dapat membantu.

Semua orang bisa menulis, baik atau buruk lain masalah. Penilaian akan muncul setelah tulisan tersebut ada. Jadi tulislah dulu apapun itu dan apapun bentuknya.

Kultur mencakup pendidikan formal dan informal. Kemampuan menulis berkembang di bangku pendidikan formal sejak sekolah dasar. Di luar negeri, murid sekolah dasar tidak ada PR, melainkan tugas menulis dan bercerita. sehingga kebiasaan menulis telah tebentuk sejak kecil. Jadi tidak ada pendidikan menulis, melainkan menulis menjadi bagian dari pendidikan. Pelajaran mengarang bagus untuk melatih kebiasaan menulis.

Dalam media massa seringkali terjadi pencampuradukkan antara isi dan formatnya. Bahasa harus cocok dengan isinya, isinya cocok dengan misinya, misinya bermanfaat bagi masyarakat. Kata-kata sebenarnya tidak bernilai kecuali dengan adanya kesepakatan-kesepakatan. Bahsa harus dibiarkan tumbu sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Menulis secara kreatif menjadi bagian yang tertanam dalam diri setiap profesional. Di negara maju mereka terbiasa sekali menyanpaikan sesuatu melalui tulisan, membuat pesan, perintah dan sebagainya melalui tulisan.

Institusi apapun baik pemerintah maupun swasta harus terbiasa dengan menulis sebagai kegiatan bagi karyawannya. Pada tahun 2003 telah ada regulasi yang mengharuskan setiap pejabat mempunyai tulisan. Kenyataannya banyak sekali tulisan pejabat kita yang kualitasnya kurang baik, maksudnya tidak tersampaikan dengan baik.

Menulis adalah bagian dari pekerjaan dan tidak boleh dianggap sebagai beban. Ini menjadi motivasi untuk menggerakkan kegiatan menulis. Motivasi ini bersifat ekstrinsik, sedangkan menulis bisa menjadi hal yang bagus bagi penulisnya itu sendiri. Seorang penulis bisa menjadi lebih tenag dalam hidupnya. Ini terjadi karena seseorang menyalurkan emosinya dan dapat terdokumentasi.

Masalah kultur juga membedakan. Di luar negeri ada kebiasaan membuat kartu ucapan, dan lebih disukai kartu ucapan yang blank, sehingga mereka bisa menuangkan emosinya melalui kartu ucapan tersebut.

Komunikasi lisan bisa menjadi kurang berkesan karena mudah dilupakan. Sedangkan komunikasi tulisan bisa lebih berkesan dan dapat dibaca akembali pada masa yang akan datang.

Kultur tersebut membangkitkan motivasi instrinsik. Sebuah tulisan mengandung resiko ketika dibaca oleh orang lain karena tidak dapat ditarik kembali atau diralat. Berbeda dengan komunikasi lisan yang bisa dengan mudah dibantah dengan mengatakan bahwa yang bersangkutan tidak mengatakannya. Di negara berkembang terkadang motivasi menulis ini dihalang-halangi dengan resiko atau ketakutan akibat tulisan yang akan dibuat.

Ide gagasan ahrus dituangkan ke dalam tulisan agar dapat digunakan sewaktu-waktu.

Ada keharusan akan permintaan dari masyarakat bahwa menulis itu harus baik. Terkadang ada keragu-raguan dalam menulis karena khawatir akan penilaian orang lain. Ini betul, karena kita menulis untuk orang lain. Ukuran pertama penilaian adalah kita membaca tulisan kita dahulu. Pada saa t itu kita menempatkan diri sebagai orang lain yang sedang menilai tulisan seseorang.

Menulis sebenarnya bukan masalah berat. yang akan kita bangkitkan adalah kemauan untuk menulis. Tidak perlu ragu-ragu. MEnulis sama dengan bicara. Yang penting ada inisiatif.

Bukan maslah kita akan menulis artikel yang memenuhi kaidah-kaidah tertentu. Kita hanya ingin menuliskan apa yang ada di benak kita dan tuangkan saja dalam bentuk tulisan. Mungkin kita hanya akan mengarahkan sisi pemilihanb bahasan saja. Ini bergantung kepada kesepakatan.

Kebebasan berekspresi terkadang mebngalami hambatan pada saat kegiatan akademis. Ini mengharuskan setiap pernyataan dapat dipertanggungjawabkan.

Sebetulnya tulisan datang setelah budaya berbicara manusia. Kebebasan menulis menjadi terhambat karena ada resiko yang harus dipertanggungjawabkan. Ynag terjadi adalah kita baru akan memulai tulisan adanya ketakutan akan dampak atau akibat. Komunikasi lisan tidak terlalu besar ruang pertanggungjawabannya.

Seharusnya setiap orang boleh menuliskan apa saja. Ini kadang dicanmpurkan bahwa setiap kata yang kita tulis harus dipertanggungjawabkan.

Menulis dan berpikir. Ini menggunakan upaya yang lebih besar. Bandingkan dengan berbicara yang langsung dapat dikeluarkan. Bicara itu dengan kebiasaan kita sehingga kita bebas mengaturnya. Berbeda dengan menulis, kita harus memperhatikan aturan-aturan, bukan bahasa kita.

Menulis itu melegakan, ini agak lebih sulit daripada berbicara. Pola pikir terkait erat dengan menulis. Sambil menulis kita berpikir, sehingga akan menghasilkan tulisan. Sejago-jaginya penulis di dunia ini, paling tidak menulis dua kali, pasti ada draft. Teknik paling mudah adalah membuat pointer, bab, dan seterusnya. Hampir sama dengan membuat atau mencicil rumah. sedikit demi sedikit. dan kita menikmati proses tersebut.

Hari kedua, Rabu 22 November 2006

Membuat pointer untuk bahan tulisan terkait dengan kegiatan sehari-hari di kantor atau pekerjaan rutin. Tulisan berbentuk ilmiah populer atau creative non fiction. Pointer-pointer harus dikembangkan sendiri dengan memeperhatikan aspek metacognitive.

Semua bahan untuk membuat pointer dan tulisan telah ada di kepala kita. Tuliskan setiap butir dan tentukan apakah butir-butir tersebut saling berkaitan atau bahkan dapat digabungkan.

2 Responses to Catatan mengikuti pelatihan bengkel kerja menulis bersama Putu Laxman Pendit

  1. luh seni says:

    ikutan dong gimana caranya

  2. Budi Nugroho says:

    #luh seni: silakan akses http://www.pdii.lipi.go.id/ kemudian klik tab Pelatihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: