Menyambut tahun baru dengan kartu himawari baru

28/12/2017

Bagi warga asing, tinggal di negeri Sakura dan memiliki resident card (semacam KTP kalau di tanah air) menjadikannya seperti warga negara Jepang yang mendapat pelayanan publik oleh pemerintah, termasuk pelayanan kesehatan. Mengikuti program asuransi nasional wajib dilakukan bila tidak ingin kesusahan bila menghadapi masalah kesehatan yang memerlukan penanganan medis baik oleh dokter umum maupun rumah sakit. Kartu asuransi (保険証 = hoken syo) wajib dibawa kemana pun pergi.

Di Kota Kumamoto, bagi keluarga yang memiliki anak-anak hingga usia hingga 15 tahun (SMP kelas 9), selain kartu asuransi, pemerintah memberikan kartu lagi untuk pelayanan kesehatan lebih murah lagi bahkan gratis. Kartu tersebut dinamakan kartu himawari (ひまわりカ-ド = himawari kado).

Menyambut tahun baru 2018, atau 平成30 (Heisei 30), mulai 1 Januari, pemerintah Kota Kumamoto menerbitkan kartu himawari baru dan dikirimkan ke seluruh keluarga yang memiliki anak usia hingga 15 tahun. Perlu diketahui, bahwa kebijakan ini adalah kebijakan baru yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi seluruh warga. Sebelumnya, kartu himawari hanya berlaku untuk anak usia hingga 10 tahun. Sungguh kebijakan yang sangat memudahkan warga.

Nampaknya, negara atau pemerintah benar-benar hadir dalam kehidupan warganya.

Advertisements

Cara mengekspor tabel di R ke dalam LaTex

27/12/2017

Tabel dalam bahasa pemrograman R adalah salah satu objek data frame yang dihasilkan ketika melakukan berbagai macam komputasi sesuai dengan penelitian kita. Pada suatu saat biasanya kita perlu menuliskannya dalam laporan penelitian atau bahan paper ilmiah. Bagi kebanyakan peneliti, menggunakan LaTex untuk menulis merupakan hal yang menyenangkan. Termasuk ketika ingin menampilkan data frame hasil komputasi di R. Alih-alih kita menyalin ulang data frame, R menyediakan fasilitas yang sederhana untuk melakukannya. Kita bisa menggunakan paket “xtable“. Berikut ini ilustrasi sederhana cara mengekspor tabel di R ke dalam Latex dengan menggunakan paket “xtable”.

> install.packages("xtable") #abaikan jika paket telah terinstall
> library(xtable)
> #muat data frame ke dalam R session atau identifikasi data frame hasil komputasi
> tli.table <- xtable(tli[1:20, ]) 
> print(tli.table)

Berikut ini tampilan script LaTex yang kita peroleh:

% latex table generated in R 3.4.0 by xtable 1.8-2 package
 % Tue Dec 26 01:50:18 2017
 \begin{table}[ht]
 \centering
 \begin{tabular}{rrlllr}
 \hline
 & grade & sex & disadvg & ethnicty & tlimth \\
 \hline
 1 & 6 & M & YES & HISPANIC & 43 \\
 2 & 7 & M & NO & BLACK & 88 \\
 3 & 5 & F & YES & HISPANIC & 34 \\
 4 & 3 & M & YES & HISPANIC & 65 \\
 5 & 8 & M & YES & WHITE & 75 \\
 6 & 5 & M & NO & BLACK & 74 \\
 7 & 8 & F & YES & HISPANIC & 72 \\
 8 & 4 & M & YES & BLACK & 79 \\
 9 & 6 & M & NO & WHITE & 88 \\
 10 & 7 & M & YES & HISPANIC & 87 \\
 11 & 3 & M & NO & WHITE & 79 \\
 12 & 6 & F & NO & WHITE & 84 \\
 13 & 8 & M & NO & WHITE & 90 \\
 14 & 5 & M & NO & WHITE & 73 \\
 15 & 8 & F & NO & WHITE & 72 \\
 16 & 6 & F & NO & BLACK & 82 \\
 17 & 4 & M & NO & WHITE & 69 \\
 18 & 3 & F & YES & HISPANIC & 17 \\
 19 & 3 & M & NO & HISPANIC & 37 \\
 20 & 5 & M & NO & WHITE & 70 \\
 \hline
 \end{tabular}
 \end{table}

Script ini tinggal kita salin dan tempel di editor LaTex yang kita gunakan. Setelah di-compile, berikut ini hasilnya:


Rezeki Membaca Al Qur’an

26/12/2017

Berdoa bagi seorang muslim adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT. Kita meyakini bahwa setiap doa yang dipanjatkan kepada-Nya akan selalu dikabulkan sepanjang syarat-syarat terkabulnya doa dipenuhi. Berbagai macam doa kita panjatkan, termasuk di antaranya adalah memohon rezeki yang banyak dan berkah yang dengan rezeki itu kita berharap mampu menjalani kehidupan di dunia secara mapan. Namun terkadang kita hanya terfokus kepada rezeki yang berbentuk materi atau kasat mata yang langsung bisa kita nikmati. Padahal terdapat salah satu rezeki yang keutamaannya sungguh luar biasa, yang bila kita mendapatkannya maka akan semakin banyak pahala yang bisa kita kumpulkan untuk bekal kelak menemui Allah SWT. Yaitu rezeki membaca Al Qur’an. Sebagaimana doa yang kita panjatkan setelah selesai membaca Al Qur’an, “Ya Allah rezekikanlah kami membacanya (yaitu Al Qur’an) sepanjang siang dan malam”. Semoga kita semua mendapatkannya, amin ya robbal alamin.


Visualisasi kata kunci pencarian menggunakan wordcloud

15/06/2017

Untuk mendapatkan informasi dari internet, kita sering menggunakan mesin pencari semacam Google ataupun Yahoo!. Dengan sangat mudah, kita memasukkan daftar istilah atau kata kunci yang terkait dengan informasi yang kita inginkan di dalam kolom pencarian. Bagi pengelola website atau blog, catatan mengenai kata kunci yang digunakan pengunjung website atau blognya tersebut sangat penting untuk menyesuaikan atau meningkatkan kunjungan. Daftar kata kunci tersebut dapat kita visualisasikan dengan menggunakan tampilan wordcloud.

Dalam bahasa pemrograman R, hal ini sangat mudah dilakukan dengan memanfaatkan paket “wordcloud“. Contoh dibawah ini adalah visualisasi kata kunci pencarian yang digunakan pengunjung terhadap blog saya ini.

Tahap awal, saya mengunduh data searchterms yang disediakan oleh WordPress di fitur Stat di Dashoboard saya. Data ini dalam format csv dan merupakan tabel frekuensi dari kata kunci pencarian. Lalu saya muat data ini di sesi pemrograman R.

# memuat library “wordcloud” dan “gridExtra”
> library(wordcloud)

> library(gridExtra)

#memuat data kata kunci pencarian
> searchterms <- read.csv(“searchterms.csv”)

> str(searchterms)

> names(searchterms) <- c(“terms”,”n”) #menampilkan 6 data teratas

> a <- head(searchterms)

> grid.table(a)#menampilkan tabel sebagai gambar

#menampilkan plot wordcloud
> wordcloud(words = searchterms$terms, freq = searchterms$n, min.freq = 1)

Demikian cara sederhana membuat visualisasi wordcloud dengan bahasa pemrograman R.


Pengalaman melatih anak berjalan

14/06/2017

Salah satu artikel mengenai tumbuh kembang anak, khususnya tahapan berlatih berjalan, adalah artikel yang banyak dicari dan ditemukan pembaca dari mesin mencari Google atau Yahoo!. Artikel ini berjudul Beberapa pendapat tentang Baby Walker yang saya posting kira-kira 10 tahun yang lalu, pada saat anak pertama saya berlatih berjalan di usia kurang dari setahun. Menarik sekali membaca komentar dari para pembaca mengenai pengalaman mereka menggunakan atau tidak menggunakan alat baby walker untuk melatih anaknya berjalan. Masing-masing punya pengalaman unik dan layak untuk dibagikan. Dan tentunya kasus demi kasus tidak dapat digeneralisir, sebagaimana yang harus dipahami setiap anak adalah individu yang unik, mereka mempunyai kecenderungan dan kelebihannya masing-masing.

Saya ingin berbagi pengalaman lagi tentang tumbuh kembang anak ketiga saya yang alhamdulillah dipercayakan lagi oleh Allah swt. Anak saya lahir tahun 2015, jadi kini usianya hampir dua tahun. Alhamdulillah pada usia kira-kira satu tahun telah lancar berjalan. Yang menarik adalah kemampuan belajar berjalan ini saya perhatikan dipengaruhi juga oleh lingkungan. Sebagai informasi, selama hampir dua tahun terakhir ini, kami tinggal di Jepang dan menempati apartemen bergaya tradisional Jepang. Ruangan didesain ramah anak dengan material yang tidak keras dan membahayakan. Seperti yang mungkin sering kita lihat di rumah Nobita dalam serial kartun Doraemon, lantai apartemen kami dialasi oleh lantai tradisional Jepang yang disebut dengan “tatami”. Tatami ini semacam tikar dari bahan mendong kalau di tanah air, tetapi didalamnya ada semacam bingkai sehingga terlihat lebih tebal. Nah, material ini ternyata cukup empuk dan hangat di musim dingin, serta sejuk di musim panas. Tatami berfungsi seperti matras empuk bagi yang sering berolahraga bela diri di gymnasium, sehingga waktu badan jatuh ke lantai, tidak akan terlalu sakit ataupun menyebabkan cedera. Rupanya kondisi ini yang mendorong anak ketiga saya untuk berlatih berjalan dengan terus menerus. Dan hampir saya tidak membantunya dengan mentetah, sebab dia belajar sendiri, jatuh bangun dan tidak merasakan sakit atau bahaya. Alhamdulillah latihan berjalannya lancar dan sukses.

Ini sekedar pengalaman saya mengenai melatih anak berjalan. Mungkin sedikit berbeda bila di tanah air, mengingat kondisi rumah kita sangat berbeda dengan rumah tradisional Jepang. Tapi yang penting kita selalu mendukung anak kita dan tidak jemu-jemu melatih dan mendampinginya.


Kelas berenang musim panas

14/06/2017

Hari ini adalah permulaan dimulainya kelas berenang bagi pada murid di SD Kurokami. Dari semalam, ananda Nabil dan Naila telah sibuk mempersiapkan berbagai peralatan berenangnya, mulai dari baju renang, penutup kepala, kacamata renang hingga tas khusus berenang. Ya, musim panas adalah saat yang dinantikan anak-anak untuk mengikuti kelas berenang.

Menariknya, kelas ini dilakukan di dalam kompleks sekolah sendiri. Ini berbeda dengan dahulu ketika bersekolah di tanah air, kelas berenang dilakukan di luar sekolah dengan menyewa kolam renang umum. Di Jepang, sarana dan prasarana olahraga merupakan bagian utama pendukung program pendidikan. Oleh sebab itu, pemerintah setempat sangat memperhatikan masalah ini. Sarana dan prasarana olahraga terbilang sangat lengkap untuk ukuran tingkat sekolah dasar. Mereka menyediakan gymnasium, lapangan bola, dan tentunya kolam renang sendiri. Para murid disibukkan dengan aktivitas olahraga di dalam lingkungan sekolah. Kelas berenang sendiri dilakukan cukup intens dengan frekuensi tiga kali seminggu.

Meski masih di bulan Ramadhan dan turut melaksanakan ibadah puasa, anak-anak tampak gembira dan antusias mengikuti kelas berenang ini. Semoga lancar puasanya nak dan tetap sehat bugar.

Ganbatte mas Nabil dan kaka Naila…!!!


Buka puasa bersama di negeri orang

13/06/2017

Bersama Jamaah Masjid Kumamoto

Ramadhan tahun ini adalah ramadhan kedua yang saya jalani bersama keluarga di negeri orang, yaitu di Kumamoto, Jepang. Sama dengan tahun lalu, kaum muslimin di Kumamoto menjalani ibadah puasa di musim panas yang waktu siangnya lebih panjang dari waktu malamnya. Rata-rata kami berpuasa 16 jam sehari, dibandingkan dengan di tanah air yang rata-rata 12 jam waktu puasa, di sini terasa lebih lama sedikit. Alhamdulillah kami sekeluarga mulai terbiasa menjalani ibadah puasa di musim panas.

Seperti di tanah air, rupanya kaum muslimin di sini juga mempunyai tradisi melaksanakan ifthar jama’i atau yang lebih kita kenal dengan buka puasa bersama, disingkat bukber. Berbagai macam komunitas berkumpul di masjid Kumamoto, berdoa bersama dan berbuka dengan berbagai hidangan yang dimasak langsung di kitchen masjid. Acara bukber ini selain sebagai ajang silaturahim sesama muslim juga merupakan sarana syiar islam di negeri yang muslimnya masih minoritas seperti di Jepang ini. Kami mengundang kawan-kawan mahasiswa Jepang dan mahasiswa internasional lainnya. Untuk sekedar menikmati hidangan buka puasa ala muslim dan mengenalkan mereka dengan kebudayaan dan ajaran islam. Kami berharap sebagian dari mereka mendapatnya hidayah dari Allah swt.

Bukber Fumiku dan PPIJ Kumamoto

Khusus untuk warga muslim Indonesia di Kumamoto, tak ketinggalan menggelar bukber yang disponsori oleh paguyuban Fumiku (Forum Masyarakat Indonesia di Kumamoto) dan PPIJ Kumamoto. Senang sekali bisa hadir dalam bukber masyarakat Indonesia, setidaknya menemukan obat kangen berbagai masakan Indonesia.

Bersama Forum Namura Danchi, Imari-Saga

Saya juga dalam berkesempatan menghadiri undangan bukber sekaligus pengajian dari teman-teman pekerja magang di Jepang, yang lebih dikenal dengan sebutan “kenshusei”. Di antaranya di Namura Danchi, Imari-Saga, dan di Kurume-Fukuoka.

Semoga Allah swt melimpahkan keberkahannya bagi kita semua. Amin ya robbal alamin.


%d bloggers like this: