Kegiatan Iptekda LIPI di Jambi “Jagung : Jus Bumi Dongkrak Produksi”


Setahun silam Karnaidi hanya butuh 30 wadah untuk menampung panen jagung manis dari lahan 0,5 Ha. Kini, ia mesti menyediakan 75 wadah, setelah produksinya naik 2,5 kali lipat. Resepnya sederhana: ayah 3 anak itu memanfaatkan pupuk organic cair sebagai pengganti pupuk kimia. Tengok perubahan yang dilakoni Karnaidi. Dulu untuk lahan 0,5 Ha, ia membutuhkan 5 kg TSP, 15 kg NPK, 25 kg Urea dan 5 kg KCI. Total jenderal Karnaidi mengeluarkan biaya Rp 1,1-juta. “Itu masih belum menghitung biaya bibit dan tenaga kerja,” kata Karnaidi yang mengebunkan jagung sejak 2007.

Dengan jarak tanam 50 cm x 70 cm setelah 70 hari ia mampu memanen 2000 tongkol jagung. Harga pertongkol Rp 700. Total jenderal omzetnya Rp 1,4 juta. Karnaidi menghitung dengan biaya produksi Rp 1,1 juta, keuntungan hanya Rp 300.000 per 3 bulan. Belum lagi modal 8 kantong bibit jagung manis Rp 424.000. Jika dihitung-hitung sebetulnya Karnaidi merugi. “Lebih baik ikut kampanye, enak dibayar,” selorohnya.

Namun, cerita itu tinggal kenangan setelah ia mengunakan pupuk cair. Ia melarutkan 1 liter pupuk cair dalam 4 liter air dan menyiramkan ke tanaman sepekan pascatanam atau setelah muncul 2,5 helai daun. Pada pekan ke-2 hingga ke-5 konsentrasi dosis pupuk cair dalam 2 liter air. Setelah itu ia menghentikan pemupukan, dan hanya sesekali menyiram tatkala lahan kering.

Meningkat

Hasilnya sungguh menggembirakan. Kualitas tanaman meningkat. Benih yang bertahan hidup di lahan mencapai 85 persen dulu paling 75 persen. Musababnya setelah dipupuk tanaman lebih sehat dan mampu bertahan dari serangan bulai. Menurut Dr Wasmo Wakman dari Balai Penelitian Tanaman Jagung dab Serelia Lain, Maros, Sulawesi Selatan, serangan bulai pada jagung menyebabkan cendawan melapisi sisi daun sehingga daun menguning dan kaku. Akibatnya daun tak mampu melakukan fotosintesis dan pertumbuhan terganggu. Jika menyerang tanaman dewasa tongkol tidak berbiji.

Selain lebih tahan penyakit, kualitas tanaman pun meningkat. Tinggi tanaman mencapai 1,7 m, sebelumnya 1,4-1,5m. Tongkol pun lebih panjang, berukuran 17-20 cm dengan biji penuh tanpa bolong. Dulu hanya 13-16 cm, biji pun banyak ompong. Produktivitas juga terdongkrak, setiap tanaman mampu menghasilkan 2 tongkol, dulu 1 tongkol. Dari 0,5 Ha kini ia menuai 5.000 tongkol.

Dengan kualitas tongkol tinggi, tengkulak kini berani membeli Rp 800/tongkol. Omzet Karnaidi pun melonjak menjadi Rp 4 juta. Disisi lain biaya pemupukan turun. Untuk luasan 0,5 Ha, ia mebutuhkan 120 liter pupuk cair dengan harga Rp 6.000/liter atau Rp 800.000. “Sekarang keuntungannya jadi Rp 3,2 juta,” kata ketua Kelompok Tani Setingkin Kota Jambi, Provinsi jambi, itu.

Untuk memperoleh pupuk organik cair itu, Karnaidi tak perlu jauh mencari. Ia memproduksi sendiri di halaman rumahnya dengan memanfaatkan bioreaktor pembangkit pupuk cair (BPCC) hasil kreasi Ir. Dede Martino MP. BPPC merupakan alat/mesin pengolah sampah organik padat menjadi cairan. Menurut Dede hasilnya berupa pupuk organic yang mengandung 16 unsur hara makro dan mikro. Potensi senyawa organic terkandung di dalamnya: serat , karbohidrat, protein, lemak, asam amino, hormon tumbuhan, vitamin dan unsure hara.

Pupuk organic itu berguna meningkatkan kesuburan tanah dengan jalan meningkatkan kandungan bahan organic tanah dan kemampuan tanah untuk “memegang” air. Dengan kondisi itu, mikroba baik dalam tanah pun meningkat. Ia membantu tanaman menyerap unsur hara dari tanah serta menghasilkan senyawa-senyawa yang berguna untuk merangsang pertumbuhan tanaman.

Sampah Organik

Alat berbentuk silinder hitam itu bekerja menggunakan metode pengomposan tertutup dan pompa oksigen yang bergerak lewat sumber energy matahari. Makanya alat itu ditaruh di luar ruangan agar panel surya menyerap energy penggerak pompa oksigen. Cara pemakainnya mudah. Produsen pupuk memasukkan bahan organic terlebih dulu sebelum biodegrator hasil kreasi Dede dicampurkan.

Produsen juga tak perlu mencacah bahan organic menjadi potongan kecil, sebab bioreactor itu memakai pencacah alami. “Bahan organic akan mengundang serangga dan meletakkan telur pada lubang kecil di permukaan alat,” kata kelahiran Jambi 30 Mei 1965 itu. Telur-telur itu akan berkembang menjadi ulat dan mencincang bahan organic . Produsen tinggal rutin memasukkan 1-3 kg sampah organic per hari.

Proses pengadukan tidak perlu karena terjadi secara alami. “Praktis, tinggal masukkan sampah, lalu tunggu 3-4 hari, pupuk organic cair dipanen,” kata Karnaidi. Bahan organic apa pun, seperti tulang ayam atau sapi dapat hancur dan menjadi cair. Untuk memproduksi 1 liter pupuk cair perlu 1 kg sampah organic. Dede menyebut pupuk organic cairnya itu dengan nama jus bumi.

Warna pupuk yang dihasilkan alat yang terbuat dari drum plastik bekas, alumunium, panel surya dan besi itu bergantung bahan organic yang digunakan. Jika menggunakan smapah buah, warna pupuk cokelat terang dan menghasilkan gas; limbah sayur, menghasilkan warna kehitaman. Keunggulan lain pupuk organic cair ini bersifat koloid, tanpa bahan padat sehingga bisa langsung digunakan tanpa menyumbat alat semprot.

Menurut Dede potensi sampah organic menjadi pupuk organic sangat besar. Dede pernah menghitung pada 2007, kota Jambi dengan luas 205 km persegi dan jumlah penduduk 470.902 jiwa menghasilkan 630.229 kg sampah per hari. “Jumlah itu potensial untuk memenuhi kebutuhan pupuk petani daripada hanya terbuang percuma,” ungkap master Agronomi dari Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, itu. Berkah jus bumi itulah yang membuat hasil bumi Karnaidi berlimpah.

(Faiz Yajri/Peliput: Argihartono Arie rahardjo)

Sumber : Trubus Edisi November 2010

Sumber: http://www.lipi.go.id/www.cgi?berita&1289206898&&2010

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: